pisces own the sea

An e-diary: I tell people thru pictures and words.

Pergi

Jika kamu memang berkeputusan untuk tidak bertahan, silahkan. Jika kamu akhirnya memilih untuk pergi, silahkan. Aku tidak akan berusaha untuk mencegah ataupun melarangmu, karna memaksa seseorang untuk tetap tinggal yang dalam hatinya sudah tidak ada aku disana adalah sebuah kesia-siaan, itu sama saja membiarkan bilah pisau pelan-pelan menusuk lalu merobek badanku.

Sama dengan,

mati pelan-pelan.

Kita berada di ujung tanduk sebuah perpisahan, yang manakala jika kamu tengok, disana ada jalan menuju kembali padaku. Jika kamu menengok berlawanan arah, kamu menemukan jalan untuk pergi–terbebas. Jika kamu akhirnya memilih untuk pergi, aku mohon jangan pernah kembali. Kamu tahu? Datang lalu pergi dari kehidupan seseorang tak sesepele pemikiranmu. Mengapa? Karena kamu telah meninggalkan hati yang berharap banyak padamu dan semena-mena kembali sebab kamu berpikir bahwa kamu belum siap untuk kehilangan.

Ketika kamu sudah siap untuk kehilangan, apa kamu ingat dengan seseorang yang tidak pernah siap kehilanganmu?

 “Let them. Let them go. No matter how much you want to keep them, you can’t hold back someone who’s feelings aren’t the same anymore. Because in the end, you’ll just get hurt when you realize you were the only one fighting.”

Trust me, it hurts.

Advertisements

“I did not lose you. It’s you, the one who is losing me. Me, the one who is lovely and faithful and loving you damn much none can compare with. I am not losing you. You are the one who is losing me.”

 

 

Dikutip dari Danketika (tumblr).

Ada saat dimana kamu lebih memilih tidak mau tahu, asal kamu bisa bahagia. Daripada mencari tahu lalu sakit hati.

Itulah yang sedang aku lakukan saat ini. Berbahagia dalam dunia yang aku sandiwarakan sendiri. Aku sudah pernah melewati saat-saat dimana kenyataan menghancurkan harapanku. Aku memiliki saat, dimana aku gemar mencari-cari kebenaran dalam kenyataan. Membiarkan kenyataan menelan lalu melumatku habis. Aku bagai senjata makan tuan, senjata yang aku gunakan malah menyerangku balik. Kenyataan adalah senjataku, aku berpikir bahwa dengan mengetahui kenyataan adalah jalan terbaik untukku. Namun kenyataan yang aku dapat begitu pelik untuk aku terima, begitu jauh dari pemikiranku selama ini bahkan terlalu jauh untuk sekedar angan-angan saja. Aku begitu yakin dengan pemikiranku, bahwa ia pasti tidak seperti itu. Seyakinnya aku, sampai membuat rasa sakitnya seperti benar-benar nyata menusuk tubuhku.

Aku melihat sisi lain, sebuah pilihan lain di samping mencari tahu kenyataan, yaitu tidak mau tahu. Tidak mau tahu berarti tidak ingin mencari-cari kebenaran, tak ingin mengorek-orek informasi teraktual. Aku bisa membuat duniaku sendiri, membuat keadaan menjadi baik-baik saja seolah tak pernah terjadi masalah. Dengan cara bagaimana? Membangun pemikiran yang positif; bahwa ia tidak pernah dengan wanita lain, bahwa ia menerimaku apa adanya, bagaimana aku, bagaimana potongan rambutku panjang maupun pendek, bahwa kami sangat bahagia. Aku tak perlu mendengar kenyataan lagi. Aku tak perlu mencari tahu untuk sakit hati kembali. Aku memilih jalan ini untuk sekarang. Aku menikmatinya. Ia pun merasa nyaman. Kami merasa inilah yang terbaik. Walaupun pada kenyataannya yang aku lakukan tak benar malah akan membuatku semakin sakit nantinya, tapi kurasa inilah yang kubutuhkan; untuk merasa baik-baik saja.

Bagaimana kalau misalnya aku benar-benar pergi dan tidak menghiraukanmu, bahkan menghilang dari kehidupanmu?

Tidak ada yang bisa memaksakan hati seseorang. Sekalipun aku pernah melakukan hal gila, berkorban untuknya, dan berusaha mati-matian untuk mempertahankannya, tidak akan sebanding dengan getaran hatinya yang terlanjur tertambat pada seorang wanita, meski wanita tersebut tidak melakukan apa-apa untuknya. Sekeras apapun aku mencoba menjadi seperti apa yang ia minta, pada akhirnya akan menjadi sia-sia jika di bandingkan dengan wanita itu. Aku terlalu percaya bahwa ialah tujuan terakhirku, tidak ada lagi yang lain, sehingga aku menyerahkan sepenuh hatiku padanya. Tidak menyisakan tempat untuk orang lain. Aku hanya terlalu percaya dan teramat sayang.

Sebuah karya dari Dara Prayoga, rekomendasi dari seseorang yang tidak diketahui namanya, terimakasih ini sangat menyentuh dan membuatku sadar, bahwa semestinya aku  tidak membiarkan diriku bodoh selamanya karena terlalu merasa bangga dengan hubunganku selama ini.

“Sekalipun aku takkan pernah mencoba kembali padamu. Sejuta kata maaf terasa akan percuma, sebab rasaku telah mati untuk menyadarinya.”

  • Anon : If you loved her, why’d you leave her?
  • You    : You only know you really-really love her when you let her go.
  • Anon : Will you let her go?
  • You   : Iya, biarkan waktu yg menjawab, saya mengikuti kata hati saja, walaupun pada akhirnya nanti saya akan menyesalinya.
  • Anon : Kata hati? Hati yg hanya bergerak untuk cewe lain itu?
  • You    : Iya.

 

Ia pasti seorang wanita yang luar biasa dan teramat istimewa bagimu, kan? Ia pasti lebih baik dari semua wanita yang pernah kamu kencani sebelumnya, tak salah jika pada akhirnya kamu pergi bersamanya. Sampai kamu memilih untuk berhenti bertahan, tak ingin mencoba, dan berusaha sedikit lagi. Bahkan, kamu rela melepaskan wanita yang kamu sebut terbaik ini.

Say Something

Aku pernah benar-benar hampir beranjak pergi, tapi aku menoleh lagi, lalu akhirnya kembali. Sesuatu telah menggerakan hati dan seluruh kontrolku. Padahal aku sadar bahwa hatimu tak bergerak untukku.

Aku merasa pijakanku masih kuat untuk menopang diri dan segala yang akan kuhadapi nanti. Karang ini masih sanggup bertahan kokoh meski di terjang ombak keras sekalipun. Rasa ini masih kuat untukmu. Aku adalah karang yang bertahan itu. Dan hati yang keras seumpa karang, adalah milikmu.

Aku pernah benar-benar merasa sakit lalu ingin segera berkemas dan pergi. Dalam hati aku berharap banyak, ada kamu yang menahanku. Membuatku bertahan. Sekedar menunjukan tak ingin aku pergi. Namun itu adalah sudut sempit nan gelap dalam rongga hatimu, yang tak tersentuh oleh alam sadarmu.

Ada aku, yang selalu kembali untuk memberimu berkali-kali kesempatan.  Lalu kau cerai-beraikan.

Adapula kamu, dalam usia dan hari yang tak ingin terkekang dalam balutan larangan. Lalu aku yang berkorban demi keserakahanmu.

Aku menyerah.

Aku bilang, aku menyerah.

Say something, I’m giving up on you

I’ll be the one, if you want me to

Anywhere I would’ve followed you

Say something, I’m giving up on you

Hiro: Where do humans go after they die?

Mika: They go to the heaven.
Hiro: I prefer to be the sky. So I always know where you are. And always look after Mika from above.
Mika: Like a stalker.
(Hiro smiles)
Mika: Then, everytime when I look at the sky, I’ll think of Hiro. Clear skies will mean you are happy. Rain will mean you’re crying. Sunset means you are embarrassed. Night will mean you are gently holding me. Right?

Movies: Powerful Romantic Scenes