pisces own the sea

An e-diary: I tell people thru pictures and words.

Category: Rabil

You once asked me, “Is it true or false the scariest thing in pisces’ life is being broken-heart?”

“The scariest thing in pisces’ life is losing her best people in life. She pretend to lives in a beautiful world surrounded by her closest people. She is a selective kind of person who lives in small circle. So people who allowed attend in her circle which she has selected by personally. In short, you asked is it true or false, the answer is exactly true.

She is scare of the day you leave her. And then she has to live her life in piece of herself.”

 

 

Advertisements

03.08: Nightmare

Malam itu tidak tidur lagi. Sudah malam yang kesekian–tidak terhitung.

Terakhir tidur malam, saya mimpi buruk. Saya terbangun dengan air mata sudah membasahi pipi dan bantal. Setengah sadar, saya merasa mimpi itu begitu nyata–benar terjadi dalam kehidupan saya. Perasaan sesak di dada, emosi yang meluap tidak tertahankan, penyesalan; adalah gambaran sakit yang begitu pedih. Jelas saya merasakan bagaimana kehilangan orang yang benar-benar penting dalam hidup saya. Sebegitu penting sampai saya merasa kehidupan yang hidup selesai sudah. Saya sudah terbangun, mata saya terbuka, namun masih setengah sadar. Mengerjap-ngerjap–seolah mengusir bayangan mimpi buruk itu. Baru beberapa detik kemudian saya dapat bersyukur bahwa saya memang benar bermimpi.

Malam itu dia bertanya, “Apa untungnya bagi saya tetap berhubungan dengan kamu?” Saya tidak menjawab, “Apa yang membuat kamu merasa untung saat ini?” Sebenarnya saya tidak butuh jawabannya, saya tahu apa yang semestinya dia jawab.

Nggak berhubungan lagi dengan kamu.”

Saya mendengus. Benar kan, dia akan menjawab seperti itu. Pertanyaan yang malah makin menyudutkan saya. Mungkin pertanyaan itu adalah desakan perasaan atas harapan kecil mendengar jawaban yang lebih baik.

Bisa berada di dekatmu.

Misalnya.

Saya masih menyimpan harapan tersebut hingga saya bertanya lagi, “Intinya nggak ada lagi ‘saya’ dalam kehidupanmu?”

Bisa dikatakan seperti itu.”

Dia menolak saya.

Kamu bahagia?”

Nggak juga. Setidaknya hal yang membuat kesal dan makan hati berkurang di kehidupan saya.”

Dia tidak akan benar-benar menolak. Saya tahu.

“Tapi dengan begitu bisa membuat saya sedikit lebih bahagia.”

Kali ini saya menangis. Mengutuk diri.

Saya menahan teriakan di dalam bantal. Saya ingin menangis sekerasnya.

“Iya. Memang nggak ada hal yang baik ataupun menguntungkan dari saya. Such a mess. Hanya bisa membuat orang-orang kesal.

Tenang, bukan hanya kamu yang merasa seperti itu. Saya sendiri juga. Saya benci dengan diri saya saat ini.”

Sudahlah. Tidak ada harapan. Dia bahagia tanpa saya. Saya hanyalah pembawa hal buruk dalam kehidupannya. Saya tidak baik. Saya bukan orang yang bisa membuatnya bahagia. Saya adalah neraka duniawinya.

“Okay. Have a nice monday, Tami! I wish you will be a better girl than before, especially for your next man.”

Jangan menghibur. There is no next man, since there is no me in your heart.

 

 

Malam itu saya bermimpi buruk dengan mata terjaga. Ini mimpi yang benar-benar buruk.

 

Red

Loving him is like trying to change your mind once you’re already flying through the free fall. Like the colors in autumn, so bright just before they lose it all. Losing him was blue like I’d never known. Missing him was dark grey all alone. Forgetting him was like trying to know somebody you never met

But loving him was red,
touching him was like realizing all you ever wanted was right there in front of you..

Memorizing him was as easy as knowing all the words to your old favorite song. Fighting with him was like trying to solve a crossword and realizing there’s no right answer. Regretting him was like wishing you never found out that love could be that strong. Losing him was blue like I’d never known. Missing him was dark grey all alone. Forgetting him was like trying to know somebody you never met

But loving him was red,

Remembering him comes in flashbacks and echoes. Tell myself it’s time now, gotta let go. But moving on from him is impossible. When I still see it all in my head.

Red, Taylor Swift.

image1 (5)It was a happy day on the beach. Sunset and also you beside me. Now I am trying to get back this smile again.

When you love someone

When you love someone

Just be brave to say that you want her to be with you

When you hold your love

Don’t ever let it go

Or you will loose your chance

To make your dreams come true

 

When you love someone, Endah N Rhesa

Pergi

Jika kamu memang berkeputusan untuk tidak bertahan, silahkan. Jika kamu akhirnya memilih untuk pergi, silahkan. Aku tidak akan berusaha untuk mencegah ataupun melarangmu, karna memaksa seseorang untuk tetap tinggal yang dalam hatinya sudah tidak ada aku disana adalah sebuah kesia-siaan, itu sama saja membiarkan bilah pisau pelan-pelan menusuk lalu merobek badanku.

Sama dengan,

mati pelan-pelan.

Kita berada di ujung tanduk sebuah perpisahan, yang manakala jika kamu tengok, disana ada jalan menuju kembali padaku. Jika kamu menengok berlawanan arah, kamu menemukan jalan untuk pergi–terbebas. Jika kamu akhirnya memilih untuk pergi, aku mohon jangan pernah kembali. Kamu tahu? Datang lalu pergi dari kehidupan seseorang tak sesepele pemikiranmu. Mengapa? Karena kamu telah meninggalkan hati yang berharap banyak padamu dan semena-mena kembali sebab kamu berpikir bahwa kamu belum siap untuk kehilangan.

Ketika kamu sudah siap untuk kehilangan, apa kamu ingat dengan seseorang yang tidak pernah siap kehilanganmu?

 “Let them. Let them go. No matter how much you want to keep them, you can’t hold back someone who’s feelings aren’t the same anymore. Because in the end, you’ll just get hurt when you realize you were the only one fighting.”

Trust me, it hurts.

Ada saat dimana kamu lebih memilih tidak mau tahu, asal kamu bisa bahagia. Daripada mencari tahu lalu sakit hati.

Itulah yang sedang aku lakukan saat ini. Berbahagia dalam dunia yang aku sandiwarakan sendiri. Aku sudah pernah melewati saat-saat dimana kenyataan menghancurkan harapanku. Aku memiliki saat, dimana aku gemar mencari-cari kebenaran dalam kenyataan. Membiarkan kenyataan menelan lalu melumatku habis. Aku bagai senjata makan tuan, senjata yang aku gunakan malah menyerangku balik. Kenyataan adalah senjataku, aku berpikir bahwa dengan mengetahui kenyataan adalah jalan terbaik untukku. Namun kenyataan yang aku dapat begitu pelik untuk aku terima, begitu jauh dari pemikiranku selama ini bahkan terlalu jauh untuk sekedar angan-angan saja. Aku begitu yakin dengan pemikiranku, bahwa ia pasti tidak seperti itu. Seyakinnya aku, sampai membuat rasa sakitnya seperti benar-benar nyata menusuk tubuhku.

Aku melihat sisi lain, sebuah pilihan lain di samping mencari tahu kenyataan, yaitu tidak mau tahu. Tidak mau tahu berarti tidak ingin mencari-cari kebenaran, tak ingin mengorek-orek informasi teraktual. Aku bisa membuat duniaku sendiri, membuat keadaan menjadi baik-baik saja seolah tak pernah terjadi masalah. Dengan cara bagaimana? Membangun pemikiran yang positif; bahwa ia tidak pernah dengan wanita lain, bahwa ia menerimaku apa adanya, bagaimana aku, bagaimana potongan rambutku panjang maupun pendek, bahwa kami sangat bahagia. Aku tak perlu mendengar kenyataan lagi. Aku tak perlu mencari tahu untuk sakit hati kembali. Aku memilih jalan ini untuk sekarang. Aku menikmatinya. Ia pun merasa nyaman. Kami merasa inilah yang terbaik. Walaupun pada kenyataannya yang aku lakukan tak benar malah akan membuatku semakin sakit nantinya, tapi kurasa inilah yang kubutuhkan; untuk merasa baik-baik saja.

  • Anon : If you loved her, why’d you leave her?
  • You    : You only know you really-really love her when you let her go.
  • Anon : Will you let her go?
  • You   : Iya, biarkan waktu yg menjawab, saya mengikuti kata hati saja, walaupun pada akhirnya nanti saya akan menyesalinya.
  • Anon : Kata hati? Hati yg hanya bergerak untuk cewe lain itu?
  • You    : Iya.

 

Ia pasti seorang wanita yang luar biasa dan teramat istimewa bagimu, kan? Ia pasti lebih baik dari semua wanita yang pernah kamu kencani sebelumnya, tak salah jika pada akhirnya kamu pergi bersamanya. Sampai kamu memilih untuk berhenti bertahan, tak ingin mencoba, dan berusaha sedikit lagi. Bahkan, kamu rela melepaskan wanita yang kamu sebut terbaik ini.

Say Something

Aku pernah benar-benar hampir beranjak pergi, tapi aku menoleh lagi, lalu akhirnya kembali. Sesuatu telah menggerakan hati dan seluruh kontrolku. Padahal aku sadar bahwa hatimu tak bergerak untukku.

Aku merasa pijakanku masih kuat untuk menopang diri dan segala yang akan kuhadapi nanti. Karang ini masih sanggup bertahan kokoh meski di terjang ombak keras sekalipun. Rasa ini masih kuat untukmu. Aku adalah karang yang bertahan itu. Dan hati yang keras seumpa karang, adalah milikmu.

Aku pernah benar-benar merasa sakit lalu ingin segera berkemas dan pergi. Dalam hati aku berharap banyak, ada kamu yang menahanku. Membuatku bertahan. Sekedar menunjukan tak ingin aku pergi. Namun itu adalah sudut sempit nan gelap dalam rongga hatimu, yang tak tersentuh oleh alam sadarmu.

Ada aku, yang selalu kembali untuk memberimu berkali-kali kesempatan.  Lalu kau cerai-beraikan.

Adapula kamu, dalam usia dan hari yang tak ingin terkekang dalam balutan larangan. Lalu aku yang berkorban demi keserakahanmu.

Aku menyerah.

Aku bilang, aku menyerah.

Say something, I’m giving up on you

I’ll be the one, if you want me to

Anywhere I would’ve followed you

Say something, I’m giving up on you

All of Me

‘Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I’ll give my all to you
You’re my end and my beginning
Even when I lose I’m winning
‘Cause I give you all of me
And you give me all of you

Ia tau segalanya tentang kehidupanku. Seluk-beluknya. Aku menceritakan segalanya, sampai kepada hal-hal yang tidak penting sekalipun. Hal-hal yang aku rasa ia butuh mengetahuinya namun sebenarnya ia tidak membutuhkannya. Aku tau, tapi aku senang melakukannya. Aku menyerahkan semuanya. Memberinya segalanya. Hingga aku merasa, aku tidak bisa memberinya apa-apa lagi untuk membuatnya bertahan nanti. Seorang laki-laki biasa, berperan sangat banyak untukku. Kadang aku melihatnya seperti seorang teman untuk berbagi cerita bahkan bergosip. Ia mampu berlagak seperti seorang teman sebaya, bermain, dan melakukan hal kekanak-kanakan denganku. Aku pun dapat bersandar padanya ketika dunia sedang tidak berpihak padaku, mendengarkan petuah-petuah dan nasihatnya seperti seorang kakak kepada adiknya. Aku dapat merengkuh badannya dan ia akan membalasku, memberikan rasa aman dan nyaman. Pelukan hangat yang selalu membuatku rindu kala malam itu menua. Pelukan yang terasa seperti sebuah rumah. Pelukan yang mampu membungkam segala rasa sakit dan membuatku bersedia untuk bertahan selamanya disana. Walaupun aku akan sakit karena tetap tinggal, namun aku merasa lebih baik sakit di dalam sana.

Ya, aku tau. Aku terlalu berlebihan. Sudah sangat terlambat untuk mencegahnya. Aku terlanjur jatuh dan tersungkur. Aku sendiri, tidak benar-benar berusaha untuk menyelamatkan diriku. Aku menemukan rumahku, di pelukannya.