pisces own the sea

An e-diary: I tell people thru pictures and words.

Category: Opinions

Everyday is An Adventure

IMG_8906testSebuah adventure (petualangan) lebih kita kenal dengan deskripsi exploring or looking for new places. Sebenarnya tanpa pergi jauh-jauh pun kita sedang berpetualang setiap hari; dengan melakukan pengalaman yang berbeda-beda setiap harinya. Jika hari ini ke sekolah mengendarai motor kita mendapat pengalaman yang berbeda jika esoknya berjalan kaki. Jika hari ini kamu masih pacaran dengan pacar kamu, mungkin aja besok semuanya berbeda; kamu putus. Kemarin kamu memiliki pengalaman memiliki seorang pacar; rutinitas mesra yang biasa kamu lakukan bersama pacarmu misalnya, itu adalah bagian dari pengalaman. Namun berbeda ketika esoknya kamu putus, rutinitas yang biasa kamu lakukan dengan pacarmu berubah dan tergantikan dengan rutinitas yang nggak lagi dilakukan bersamanya. Sehingga pengalamanmu dalam konteks memiliki pacar hilang namun kamu kini memiliki pengalaman bagaimana rasanya menjomblo. Semua itu adalah bagian dari petualangan-petualangan hidupmu. 

An adventure is an exciting or unusual experience. 

Aku menulis post ini dengan latar belakang kehidupan remajaku yang masih mengambang. Kenapa mengambang? Karena aku belum bisa memposisikan dimana aku berada, aku bukan lagi anak kecil dan bukan pula seorang perempuan dewasa. Aku berada pada masa ingin menunjukkan eksistensi diri dan mendapatkan pengakuan atau agar dianggap keberadaannya di tengah-tengah masyarakat dengan melakukan beberapa hal; misalnya galau di twitter, karena aku melihat orang-orang yang ngetwit galau mendapat respon lebih oleh followers-nya, jadi aku pun melakukannya untuk menarik perhatian publik bahwa aku eksis juga loh.

Apa yang terjadi padaku tentu tak lepas dari apa yang kalian juga alami kan, khususnya yang seumuranku. Karena rasa ingin tahu yang tinggi serta ketertarikan yang terpengaruhi oleh lingkungan setiap remaja berbeda-beda, maka penunjukan eksistensi diri mereka pun bermacam-macam. Ada mereka yang melakukannya seperti apa yang kulakukan diatas, ada pula mereka yang melakukannya dengan hal-hal negatif seperti merokok bahkan memakai narkoba.

Ketika melihat dan merasakan hal yang sama (maksudnya bukan merokok ataupun memakai narkoba loh ya) hal yang dilarang akan semakin membuat rasa ingin tahu bertambah dan akhirnya iseng-iseng mencoba. Itu adalah hal manusiawi yang sudah terjadi sejak zaman dahulu kala, sejak zaman Nabi Adam yang akhirnya memakan buah kuldhi yang dilarang oleh Allah SWT. Karena pada dasarnya manusia, semakin ia dilarang maka semakin ia ingin tahu dan mencobanya. Hal inilah yang sedang gencar-gencarnya terjadi pada diri seorang remaja. Karena masa ini merupakan masa-masa yang sangat sensitif dan penuh gelora yang disertai perubahan dan perkembangan jasmani, pemikiran, dan kejiwaan, dan pengalaman baru; ingin bebas melakukan berbagai hal. Kita nggak mau dianggap hanya seorang anak ingusan yang melahap apa aja secara mentah-mentah (bahkan kita mulai mengingat masa kanak-kanak dan menemukan diri kita begitu polos nan lugu yang dengan gampangnya terjerumus dengan hal-hal yang sekarang kita anggap memalukan sekali, misalnya kealayan di facebook). Kita mulai berpikir kritis dan nggak gampang menerima perkataan atau pendapat orang-orang yang usianya lebih tua tanpa argumentasi yang memuaskan kita. Karena apa yang kamu yakini berbeda dengan argumentasi orang-orang yang usianya lebih tua, kamu bahkan nggak mengerti dan sukar menerimanya, sehingga terjadi pemberontakan.

  • Contohnya kita kerap kali nggak menerima dan berpikiran negatif dengan larangan orangtua pulang lebih dari jam 9 malam. Nah, itu adalah salah satu contoh bagaimana kita nggak gampang menerima pendapat orang lain tentang suatu hal, karena argumentasi kita berpendapat bahwa apa yang kita lakukan bukanlah hal yang buruk dan akhirnya kita salah paham dengan kasih sayang orangtua.

Disini, aku merasa bahwa aku sudah mampu memahami dan menjangkau masalah-masalah seperti moral atau pun gaya kehidupan yang beraneka ragam sekarang ini. Setelah itu aku akan menilainya secara sistematis dan argumentatif dimana aku dapat membandingkan plus-minus pada setiap hal yang aku lihat dan alami, sampai akhirnya aku akan menemukan jawaban (yang menurut aku) adalah yang paling tepat. “Paling tepat” tersebut belum bisa dikatakan memang benar-benar tepat, bisa saja apa yang aku yakini nggak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Karena itu remaja sepertiku belum pantas diposisikan sebagai orang dewasa yang mampu mengkaji segala fenomena/peristiwa dengan kejelian analisa dan kematangan pemikiran.

“Membentuk dan membangun jati diri merupakan hal yang sangat sulit dan penuh resiko. Remaja di usia ini harus belajar dan memilih ideologi yang benar dari berbagai ideologi yang disodorkan padanya. Orang-orang yang sukses dalam tahapan ini dan memiliki jati diri yang kuat akan siap menghadapi masa depannya dengan perasaan yang tenang dan kepercayaan diri yang tinggi. Di usia-sia seperti ini, kelompok masyarakat sangat berpengaruh dalam membentuk karakter remaja. Kelompok masyarakat mampu mengontrol dan mempengaruhi perkembangan jati diri para remaja. Karena itu, teman, pemilihan tokoh teladan dalam agama atau non-agama dan gaya kehidupan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter dan perilaku kalangan remaja. Dengan demikian peluang pengembangan diri bagi remaja sangat terbuka lebar. Masa remaja merupakan masa untuk mengenal diri dan mengenal Sang Pencipta. Karena di masa remaja seseorang dapat mengarungi tangga kehidupan dengan mudah dan enerjik maka ia perlu berpikir sebelum bertindak dan bermusawarah dengan orang penyayang dan berpandangan luas hingga ia tidak tergelincir dalam pencarian jati dirinya,” kata Ericsson (dikutip dari taqrib.info)

Yap, benar sekali! Pencarian jati diri seseorang harus didukung oleh lingkungan yang membimbingnya ke arah yang lebih baik. Maka ia perlu berpanduan dengan orang-orang yang memiliki pandangan yang luas. Keluarga. Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang paling dekat dengan seorang remaja sehingga itulah yang terpenting. Sehingga pembentukan diri seseorang dimulai dari lingkungan keluarganya.

“Bapak wajar di usiamu sekarang kamu banyak berontak dan susah diatur, itu sesuatu yang alamiah dan wajar terjadi di usiamu sekarang, tapi yang bapak minta… jangan sampai kehilangan arah. Tetap jaga diri dan jauhi dari hal negatif.” – begini kata Bapak aku.

frogNamun zaman sekarang, lingkungan keluarga nggak cukup untuk meng-handle seorang remaja kekinian. Bahkan dari sebagian mereka (bahkan aku sendiri) nggak terlalu dekat dengan keluarga, malah lebih dekat dan terbuka dengan orang lain. Yak, bisa saja itu adalah pacar (jika punya) atau sahabat-sahabat dekat. Aku lebih mengkhususkan kepada pacar, karena untuk banyak hal aku lebih terbuka dengan pacar daripada orang lain. Dan beruntungnya aku bersama seorang laki-laki yang mau bersabar dan pelan-pelan mengajariku untuk menjadi dewasa. (Oh, so damn glad I found him!

Terimakasih untuk dua laki-laki hebat ini. :) Oh iya, Selamat Hari Ayah buat Bapak, seorang yang berharga dengan kasih sayang tiada muara untuk berhenti menyayangi anak-anaknya. (12 November 2013).

Dan, Selamat Tanggal 21 untuk yang ke-15 kalinya buat laki-laki kesayangan aku, Rabil Billy Hirsapa (21 November 2013).

– diatami muftiarini

 

Advertisements

Sudut Pandang Pribadi: Idealisme.

“Kamu itu kaya pengemis, tau nggak.” — Pikiran, 2:00 dini hari.

Begitu kata pikiranku, yang bersemanyam dalam otakku belakangan ini. Ia seolah menamparku. Keras, tapi hanya terasa sekilas. Tak membekas. Aku (kini) terbiasa dengan sindiran semacam itu dalam otakku sendiri.

Mungkin kalian juga sama. Terutama buat perempuan-perempuan yang merasa dirinya WOP (Women On Top—bukan ngeres) atau sederhananya, perempuan dengan kegengsian tingkat akut. Ketika berhadapan dengan lelaki yang teramat sangat disayangi, ego sekeras batu karangnya pun akan leleh kayak cokelat juga. Beberapa. Atau mungkin kebanyakan. Kalian, mereka, dan bahkan aku sendiri salah satu dari beberapa atau kebanyakan itu kok. Kalau kata pikiranku, itu namanya mengemis kasih sayang, tapi kalau kata hatiku itu adalah pengorbanan. Penyebutan yang sangat berbeda jauh. Bertolak belakang malah. Mengemis itu identik dengan pengemis; kumuh, lusuh, hidup dipinggir jalan, tidurpun juga dipinggir jalan, nggak punya rumah, nggak punya duit, tapi disini kita menyebutnya dengan kere-kasih-sayang. Pengemis yang dahulu kala adalah pengemis gengsian/cuek/independent, ujung-ujungnya malah mengemis kasih sayang dengan lelaki yang teramat sangat dicintainya. Egonya pun mati. Non-aktif. Semata-mata. Demi laki-laki yang ia kasihi. Sementara pengorbanan lebih kepada hal-hal kepahlawanan. Kalau disini, seperti mengesampingkan realistis dan mencoba bertahan dengan melakukan hal-hal luar biasa yang bahkan menimbulkan luka dihati. Tapi namanya juga pengorbanan, hati yang terluka itu tidak terasa sakit. Hanya sebatas luka namun tak sakit. Karena ia melakukannya berdasarkan alasan yang jelas dan memang pantas.

Dahulu kala, aku berpikir bahwa sifat dan caraku yang seperti ini (egois, cuek, gengsi, dan saudari-saudarinya yang lain) adalah identitas penting dalam diri seorang perempuan. Kalau nggak ada hal-hal itu, maka murahanlah kita. Pikirku seperti itu. Dan selama masa puberku, masa-masa dimana aku mengenal yang namanya pacaran, aku sangat memegang teguh idealismeku. Contoh mungilnya; aku nggak mau SMS duluan sebelum di SMS duluan. Kalau nggak di SMS dan akhirnya dilupakan, aku hanya berpikir sederhana nan simpel; “Yasudah nek, mangnya gue pikirin!” “Bodo amat.” “By the way, yang duluan melupakan itu aku ya bukan kamu. Seenaknya aja!” 

Hakhakhak. Ngakak dulu deh, kalau inget masa-masa lampau.

Namun makin kesini, dewasa ini, aku mendapat banyak pengalaman yang benar-benar membuatku jungkir balik. Menjungkir-balikan pemikiranku. Maka muncullah idealisme baru yang telah lahir dalam benak, pikiran,  dan menjalar ke seluruh tubuhku.

“Idealisme pada dasarnya adalah perubahan, terlepas dari apakah perubahan itu baik atau buruk. ” — Ajie Adnan.

Dalam kondisiku. Aku sedang dalam kondisi dimana idealisme lamaku tak bisa memecahkan masalahku dengan laki-laki yang kini telah bersamaku kurang lebih 10 bulan. Kalau aku pikir sekarang, dengan pikiran yang masih terombang-ambing karena usia (16 tahun—masa super-labil), pemikiran tentang cuek, careless, gengsi, bla, bla, bla itu sangat sangat sangat harus dijauhi saat berada dalam hubungan yang diseriusi. Karena akan membawa malapetaka nantinya. Tapi sayangnya, aku sudah terlalu lama bergelut dalam idealisme lamaku sehingga mematikan sistem saraf kepekaanku terhadap perasaan orang lain. Aku juga sempat heran, kalau aku pikir-pikir lagi sikapku dulu, kok bisa ya hal sekecil namun menyakitkan seperti itu nggak aku sadari dan dengan polosnya meluncur dari mulutku? Polos, sepolos nan semulus perosotan Taman Kanak-kanak.

Dan ketika dihadapkan dengan realita kehidupan bahwa idealisme seperti itu tak akan eksis lama-lama dalam pergaulan serta hubungan dengan laki-laki manapun, aku pun tersadar, maksudnya agak tersadar tapi aku memang benar sadar kok (?!)  Tapi ya-gitu-deh, kadang-kadang hilang kesadaran dan kembali dengan idealisme lama lalu menyesali kebodohan tersebut dan berjanji tak akan seperti itu lagi. Tapi esoknya pun, aku melakukannya lagi. Dan menyesal lagi. Apa aku belum sadar? Tapi aku merasa sudah sadar kok, cuman pikiran dan saraf motorikku belum dapat menerima dengan lapang dada. Selapang yang diberikan oleh hati.

Hati tentu membatin kalau idealisme baru tersebut harusnya dijalankan dengan baik dalam kehidupan sehari-hariku. Ruginya apa sih? Itu adalah tindakan berdampak besar. Peduli dengan orang-orang sekitar, peka dengan perasaan lain, serta embel-embel lainnya tentang idealisme baru tersebut. Pikiran kadang mengiyakan, begitupun motorik. Namun ketika sedang menjalankan idealisme baru, aku menerima penolakan. Pe-no-la-kan. Ignorance. Hal yang paling hina yang pernah dirasakan dan jangan sampai di rasakan oleh perempuan gengsi sepertiku. Pikiran serta motorikku mundur cepat kembali ke dalam idealisme lama. Mengomeli hati yang menghasut tak baik untuk image-ku sebagai perempuan emansipasi dan tak dijajah oleh laki-laki! Aku ini generasi Ibu Kartini, tak boleh disakiti. Aku ini perempuan yang harus diindahkan bahkan dihormati. Aku seperti mengutuk diriku untuk berjanji agar pelecehan tersebut tak terulangi. Oke, itu berlebihan. Tapi sayangnya pikiranku memang terlalu sarkatis dan lebaytis.

R.A.-KartiniIbu Raden Ajeng Kartini. 

Tapi aku diajarkan oleh laki-laki itu. Melalui teori dan praktek, seperti guru yang mengajarkan muridnya. Bahwa idealisme lamaku salah. Tapi ia pun membenarkan beberapa bahwa idealismeku ada benarnya; perempuan harus gengsi, namun di kondisi-kondisi tertentu.

“Idealisme adalah sumber perubahan. Perubahan terjadi karena tidak adanya kepuasan terhadap kondisi terkini, perubahan terjadi karena ada ‘kesalahan’ atas suatu hal, perubahan dapat dilakukan hanya bila ada keberanian, dan keberanian untuk melakukan perubahan merupakan implementasi nyata dari idealisme.” — Ajie Adnan.

Aku berpikir lama untuk ini. Tentang perubahan. Perubahan atas pemikiran baru dan semoga aja berefek terhadap kepribadian yang baru pula, tentu aja yang lebih baik. Aku merasa perubahan yang aku lakukan ini perlu dilakukan secara riil. Idealisme lama perlu dibenahi. Karena aku merasa ada kesalahan dalam idealismeku dan dengan tekad yang bulat, aku ingin membenahi diriku sepenuhnya. Dan yang sedang kukerjakan sekarang masih dalam proses awal—gampang terombang-ambing bahkan terseret arus. Yang aku butuhkan saat ini adalah seseorang yang bersedia menjadi ‘jangkarku’ sehingga aku tak mudah diseret arus, serta seseorang yang sabar mengajari dan menungguiku. :)

“Namun perlu diperhatikan juga bahwa idealisme tidak bisa berdiri sendiri. Idealisme juga memerlukan realisme. Idealisme dan sikap realistik bagaikan dua sisi mata uang yang saling melengkapi satu sama lain secara absolut. Tanpa adanya sikap realistik, idealisme hanya akan menjadi angan-angan utopis: bagaikan mimpi di siang bolong. Sikap idealis tanpa sifat realistis hanya akan menjadi bunga tidur dalam kehidupan yang tidak lebih baik dari khayalan orang sakit jiwa.

Perlu ada keseimbangan koheren antara sifat idealisme dan realistis agar menjadi manusia seutuhnya. Sikap realistis diperlukan untuk memahami dan menginsyafi kondisi riil di lapangan. Sedangkan sikap idealis diperlukan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kekurangan yang terjadi dalam realita. Tidak mungkin seorang manusia hanya mengikuti arus (realistis) selama-lamanya, atau hidup akan menjadi statis. Tidak mungkin juga seorang manusia hanya mengutamakan idealismenya semata dengan mengacuhkan realita kalau tidak ingin dikatakan seorang pemimpi.” — Dikutip dari artikel Ajie Adnan; Filsafat; Kompasiana.com

Ditulis pukul 02.36 dini hari,

– d

Salah paham itu sederhana.

Ketika kamu harus pintar-pintar memakai kata akhiran, seperti misalnya: “-dah”, “-deh”, “-ya”, “-sih”, “-kan”.

“-dah”

Arti akhiran “-dah” dalam sebuah kalimat memberitahukan secara kasat mata bahwa sebenarnya dia berharap sesuatu, pasrah, merasa nggak puas, dan nggak ikhlas. tapi dia berusaha untuk menerimanya dengan setengah hati. contohnya begini:

4517_0_1

“-deh”

Akhiran “-dah” nggak jauh beda sama akhiran “-dah”. cuman kalau akhiran “-deh” itu bener-bener menunjukan bahwa si pembicara nggak ikhlas dengan ajuan/pendapat lawan bicaranya. karena dia nggak ikhlas dan akhirnya mencoba untuk menerima walau dengan berat hati, jadi kalimat yang terlontar dari bibirnya sangat menunjukan bahwa dia benar-benar nggak bisa menerima. agak panjang lebar ya, ini dikasih contoh aja: b;loij

“-ya”

Akhiran “-ya” itu banyak artinya, tergantung bentuk dan maksud kalimatnya. langsung contoh aja: 4329419_700b_large Ketika seseorang mengirimi SMS ato bilang seperti itu, (s)he mean it for sure. daripada kalimat tanpa akhiran “-ya”, seperti sebuah suruhan yang terdengar dingin dan nggak ikhlas. wajah si penyuruh biasanya seperti ini sih… memecenter-vs-9gag-9gag-wins_o_1222971 tapi kalo memakai akhiran “-ya” terdengar lebih halus. intinya kalimat itu menjadi +++. beda lagi kalo akhiran “-ya” untuk jawaban ini… 4517_0_1   Tentu aja dia nggak benar-benar memaafkanmu. setengah hati mengatakan “-ya”, padahal faktanya dia nggak se-“ya” yang dia katakan.

“-sih”

Akhiran kata ini menunjukan bahwa dia bertanya secara agresif dan sangat kepo. atau mengajukan kalimat pernyataan yang agak nyinyir dan sinis. images “Cowok itu kenapa sama ceweknya sih? / “Kok bisa putus sama pacarnya sih?” Kalimat tanya ini uda nunjukin kalo dia bener-bener kepo dan rada agresif kan? the-difference-of-memecenter-and-9gag_o_701600

“-kan”

Arti akhiran “-kan” lebih kepada menyakinkan sebuah kalimat. entah mungkin dia bertanya atau sedang mengatakan pernyataan yang sangat dia yakini. tumblr_m4c6k4LJJA1qzxzwwo1_500-vert

***

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, kata-kata itu nggak dimasukan dalam pembahasan mengenai kata akhiran. tapi kamu tau nggak, hal ini harusnya kita perhatikan dan dibahas untuk mengetahui guna dan efek sampingnya kalo salah digunakan. apalagi buat kamu-kamu yg nyaris 100% berhubungan dengan pacar kamu lewat SMS… maksudnya LDR ya. hal ini sangat perlu di perhatiin sehingga kesalah pahaman itu dapat dihindari. karena salah paham itu awalnya sangat sederhana.

entahlah, ini hanya argumen seorang semi-wanita yg belum genap 17 tahun. aku menulis post ini berdasarkan pengalaman di kehidupanku sehari-hari, entahlah kalau dalam versi kalian. judge? whatever.

-d

After Rain.

Some people feel the rain. Others just get wet. And I’m in a person that “just get wet when it rains”.

People (I-meant-to-the-teens) that feel the rain usually have the same reasons.

tumblr_lr22w0fDqq1qae5mjo1_500_largeOthers just have another reasons.

I kinda dislike a raining day. I do love the earth after a rainy day. I’ve done listed my reasons of being in love with the earth after a rainy day:

1.) The earth after rain, seems like the feeling after crying.

2.) The smell after rain, its like comfortable you inside.

3.) The way the road looks after it has rained.

tumblr_lr7u35E6IW1qctebwo1_500_large

Also the city looks.

385714_386187568067388_45261490_n_large

4.) There’s always God rays emerge from the cloud bumps. Seems like the angels are come down to earth.

3061561445_6ff6814f34_large

5.) There’s always a rainbow after rain, as we known-well. ;)

6.) But the most I love from these list… The view color after rain, especially during the afternoon. A Brightly Yellow!

185898_1816876590665_1502627512_1842428_381101_n_largeKeep dry, Guysss! ;) – d