pisces own the sea

An e-diary: I tell people thru pictures and words.

Category: Long-reads

Ada saat dimana kamu lebih memilih tidak mau tahu, asal kamu bisa bahagia. Daripada mencari tahu lalu sakit hati.

Itulah yang sedang aku lakukan saat ini. Berbahagia dalam dunia yang aku sandiwarakan sendiri. Aku sudah pernah melewati saat-saat dimana kenyataan menghancurkan harapanku. Aku memiliki saat, dimana aku gemar mencari-cari kebenaran dalam kenyataan. Membiarkan kenyataan menelan lalu melumatku habis. Aku bagai senjata makan tuan, senjata yang aku gunakan malah menyerangku balik. Kenyataan adalah senjataku, aku berpikir bahwa dengan mengetahui kenyataan adalah jalan terbaik untukku. Namun kenyataan yang aku dapat begitu pelik untuk aku terima, begitu jauh dari pemikiranku selama ini bahkan terlalu jauh untuk sekedar angan-angan saja. Aku begitu yakin dengan pemikiranku, bahwa ia pasti tidak seperti itu. Seyakinnya aku, sampai membuat rasa sakitnya seperti benar-benar nyata menusuk tubuhku.

Aku melihat sisi lain, sebuah pilihan lain di samping mencari tahu kenyataan, yaitu tidak mau tahu. Tidak mau tahu berarti tidak ingin mencari-cari kebenaran, tak ingin mengorek-orek informasi teraktual. Aku bisa membuat duniaku sendiri, membuat keadaan menjadi baik-baik saja seolah tak pernah terjadi masalah. Dengan cara bagaimana? Membangun pemikiran yang positif; bahwa ia tidak pernah dengan wanita lain, bahwa ia menerimaku apa adanya, bagaimana aku, bagaimana potongan rambutku panjang maupun pendek, bahwa kami sangat bahagia. Aku tak perlu mendengar kenyataan lagi. Aku tak perlu mencari tahu untuk sakit hati kembali. Aku memilih jalan ini untuk sekarang. Aku menikmatinya. Ia pun merasa nyaman. Kami merasa inilah yang terbaik. Walaupun pada kenyataannya yang aku lakukan tak benar malah akan membuatku semakin sakit nantinya, tapi kurasa inilah yang kubutuhkan; untuk merasa baik-baik saja.

Setidaknya ada kelegaan disana, walaupun terselip rasa takut untuk menghadapi respon-respon yang bisa saja membuat kelegaan itu berubah menjadi penyesalan.

Setidaknya aku sudah berkata jujur dan mengungkapkan apa yang aku pendam. Aku tidak pandai dalam mengurung rasa, aku selalu tak kuat untuk tidak mengatakan apapun yang membuatku cemas. Diam dan tidak melakukan apa-apa adalah tindakan seorang pengecut, atau biasa aku sebut sebagai tindakan terlalu-hati-hati guna menghindari kemungkinan terburuk dari tindakan tersebut. Tapi apalah itu semua! Pura-pura untuk merasa tidak baik bukanlah hal yang salah toh. Siapa yang bisa menyalahkan hati seseorang? Kita saja tidak mampu untuk memilih seseorang untuk kita jatuh cintai. Kita bisa saja memilih seseorang untuk kita jatuh cintai karena parasnya atau hal lainnya yang kita sukai, saat itu kita hanya jatuh di mata dan tidak pada hati. Lalu mengapa? Setiap yang hanya jatuh di mata tidak akan bertahan lama seperti ia yang jatuh pada hati. Begitulah, tiba-tiba saja hati sudah berlabuh padanya, seseorang yang bahkan tidak terpikirkan untuk kita jatuh cintai. Siapa yang bisa menyalahkan hati? Kalau sudah jatuh, hati tidak mau tahu. Sama seperti rasa sakit. Kalau sesuatu tak begitu nyaman dengan hati, persetan dengan apapun, hati ini akan tetap sakit. Meski berbagai macam alasan sudah di lontarkan, beribu jenis alasan logis di utarakan, hati tetap merasa sakit (walaupun dapat menutupinya dengan sugesti diri bahwa semua akan segera membaik). Tapi tetap saja toh, tetap ada rasa sakit. Berjuang untuk melawan rasa sakit itu sangat pelik. Alot. Aku akan angkat tangan tinggi-tinggi kalau masalah hati ini yang sakit. Aku tidak bisa tinggal diam. Aku akan kehilangan kendali diri. Aku tidak bisa berpura-pura mengatakan bahwa aku baik-baik saja. “Kebohongan terbesar wanita adalah bahwa ia baik-baik saja pada nyatanya ia tidak.” Aku tidak pernah ingin membohongi diri sendiri, apa gunanya mulut dan kemampuan berbicara serta bersuara jika tak digunakan untuk mengeluarkan pikiran dan isi hati. Aku hanya sedang mempergunakan bagian-bagian tubuhku dengan semestinya. Apa ada yang salah?

Yah.. mungkin aku salah. Karena aku bukanlah siapa-siapa yang berhak untuk sakit hati dan melarang banyak terhadap hidupnya. Aku bahkan bukan keluarganya, tidak pula isterinya. Aku hanya sebatas pasangan yang saling mengikat janji di senja hari itu. Tapi aku tidak bisa memungkiri apa yang aku rasakan. Rasa egois memiliki sepenuhnya. Kalian bisa bayangkan, jika seseorang yang kamu sebut ia adalah kekasihmu memiliki perasaan khusus dengan lawan jenisnya selain padamu. Dia akan bercerita tentang wanita itu. Tentang bagaimana suaranya, penampilannya, gaya rambutnya, apapun tentang wanita itu. Ia menceritakan dengan lancar dari apa saja yang pernah wanita itu lakukan, dari yang terbaru hingga yang terburuk. Dan bagaimanapun wanita itu, ia tetap selalu mengaguminya. Perasaan khusus yang membuatmu sesak dan susah bernapas kala mendengar itu. Kamu bisa melihat raut wajah kekasihmu ketika menceritakannya.

Ia terlihat bahagia.

Aku memberithunya segalanya. Bagaimana rasanya menjadi seorang kekasih yang pasangannya mengistimewakan wanita lain. Seorang pasangan, yang sampai rela malam-malam pergi ke rumah seorang wanita ketika wanita itu membutuhkan teman mengadu nasib dan rela terbangun sampai subuh demi mendengarkannya bercerita. Tak ada kekasih yang tidak sakit hati melihat pasangannya seperti itu, terlebih ketika ia sudah jujur, menjelaskan kondisinya, bagaimana perasaannya, sampai pengorbanan yang dianggap tak perlu untuk dibeberkan pun akhirnya di jelaskan, namun semua itu tak sedikitpun menggerakan hati pasangannya yang hatinya hanya tergerak untuk wanita lain yang bahkan tidak melakukan apa-apa untuknya. Ia pun sadar perbuatannya akan sangat menyakiti hati kekasihnya, tapi ia tetap tidak bisa menahan diri dan hatinya. Ia tetap melakukannya. Ia melakukannya dalam keadaan sadar.

Air mata rasanya terlalu lelah untuk sekedar menitik. Hati pun sudah lelah menahan logika yang terus berunjuk rasa, bahwa sudah tak perlu lagi bertahan. Lalu, yang dapat aku lakukan sekarang adalah menunggu rasa ini mendingin dan berhenti dengan sendirinya.

Terimakasih sudah segan mendengarkan,

Teruntuk kekasih yang berbahagia.

Februari, 2014.

We Can’t Stop (Vintage 1950’s Cover) & Quotes

“Whatever you do, good or bad, people will always have something negative to say.” ― W.H. Auden

Yap, selalu ada orang yang nggak suka sama apa yang kita katakan atau apa yang kita lakukan. Selalu ada omongan yang dapat mereka umbar tentang apa aja, hal yang jelas-jelas biasa aja bahkan niat baik pun selalu mendapat omongan negatif, apalagi yang jelas-jelas buruk. Manusia beragam, jelas pendapat mereka akan suatu hal berbeda pula. Nggak hanya dalam rapat musyawarah aja kita harus menghargai pendapat orang lain, dalam kehidupan sehari-hari pun kita harus bisa menghargai pendapat orang lain. Entah pendapat tentang ekonomi, politik, bangsa, keluarga, pergaulan, percintaan, bahkan pendapat mereka tentang dirimu. Hanya dengan 2 cara menghargai pendapat-pendapat tersebut; mengambil ilmu dan kebaikan dari pendapat tersebut atau tertawa lalu melupakannya tanpa berkomentar pedas. Yah, walaupun sangat sakit rasanya mengetahui orang lain beranggapan buruk tentang kita.

Aku pun pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi bahan omongan negatif oleh beberapa orang. Kesal sih, sempat berpikir mau berkomentar, namun urung. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pun terasa sangat salah. Buang-buang tenaga, karena akan (kembali) selalu ada orang-orang yang berpikirin buruk tentang dirimu. “You can’t control what people think about you.” Yes?

Doing whatever we want. This is our house. This is our rules.

Lakukan apa yang menurut kita benar, karena ‘kacamata pandang’ setiap orang berbeda-beda, begitu juga dengan kamu dan aku sendiri. Junjunglah tinggi budaya menghargai pendapat orang lain, bukan hanya di meja musyawarah saja.

Remember only God can judge ya. Forget the haters ’cause somebody loves ya.

Hahahaha. Ini yang paling penting. Bersyukurlah, di dunia ini nggak semuanya adalah orang jahat dan orang-orang yang berpikiran negatif, selalu ada orang baik. Untuk meminimalisir pikiran buruk orang-orang tersebut dan judge, keep your drama to yourself, your closest friends, or your boy/girlfriend. Yaaah, intinya orang-orang yang dapat kamu percayai. Karena nggak semua orang bisa ngerti dan mau ngertiin masalah ataupun keadaan kamu.

(This post I wrote based on quote by @aMrazing’s tweets)
– d

Everyday is An Adventure

IMG_8906testSebuah adventure (petualangan) lebih kita kenal dengan deskripsi exploring or looking for new places. Sebenarnya tanpa pergi jauh-jauh pun kita sedang berpetualang setiap hari; dengan melakukan pengalaman yang berbeda-beda setiap harinya. Jika hari ini ke sekolah mengendarai motor kita mendapat pengalaman yang berbeda jika esoknya berjalan kaki. Jika hari ini kamu masih pacaran dengan pacar kamu, mungkin aja besok semuanya berbeda; kamu putus. Kemarin kamu memiliki pengalaman memiliki seorang pacar; rutinitas mesra yang biasa kamu lakukan bersama pacarmu misalnya, itu adalah bagian dari pengalaman. Namun berbeda ketika esoknya kamu putus, rutinitas yang biasa kamu lakukan dengan pacarmu berubah dan tergantikan dengan rutinitas yang nggak lagi dilakukan bersamanya. Sehingga pengalamanmu dalam konteks memiliki pacar hilang namun kamu kini memiliki pengalaman bagaimana rasanya menjomblo. Semua itu adalah bagian dari petualangan-petualangan hidupmu. 

An adventure is an exciting or unusual experience. 

Aku menulis post ini dengan latar belakang kehidupan remajaku yang masih mengambang. Kenapa mengambang? Karena aku belum bisa memposisikan dimana aku berada, aku bukan lagi anak kecil dan bukan pula seorang perempuan dewasa. Aku berada pada masa ingin menunjukkan eksistensi diri dan mendapatkan pengakuan atau agar dianggap keberadaannya di tengah-tengah masyarakat dengan melakukan beberapa hal; misalnya galau di twitter, karena aku melihat orang-orang yang ngetwit galau mendapat respon lebih oleh followers-nya, jadi aku pun melakukannya untuk menarik perhatian publik bahwa aku eksis juga loh.

Apa yang terjadi padaku tentu tak lepas dari apa yang kalian juga alami kan, khususnya yang seumuranku. Karena rasa ingin tahu yang tinggi serta ketertarikan yang terpengaruhi oleh lingkungan setiap remaja berbeda-beda, maka penunjukan eksistensi diri mereka pun bermacam-macam. Ada mereka yang melakukannya seperti apa yang kulakukan diatas, ada pula mereka yang melakukannya dengan hal-hal negatif seperti merokok bahkan memakai narkoba.

Ketika melihat dan merasakan hal yang sama (maksudnya bukan merokok ataupun memakai narkoba loh ya) hal yang dilarang akan semakin membuat rasa ingin tahu bertambah dan akhirnya iseng-iseng mencoba. Itu adalah hal manusiawi yang sudah terjadi sejak zaman dahulu kala, sejak zaman Nabi Adam yang akhirnya memakan buah kuldhi yang dilarang oleh Allah SWT. Karena pada dasarnya manusia, semakin ia dilarang maka semakin ia ingin tahu dan mencobanya. Hal inilah yang sedang gencar-gencarnya terjadi pada diri seorang remaja. Karena masa ini merupakan masa-masa yang sangat sensitif dan penuh gelora yang disertai perubahan dan perkembangan jasmani, pemikiran, dan kejiwaan, dan pengalaman baru; ingin bebas melakukan berbagai hal. Kita nggak mau dianggap hanya seorang anak ingusan yang melahap apa aja secara mentah-mentah (bahkan kita mulai mengingat masa kanak-kanak dan menemukan diri kita begitu polos nan lugu yang dengan gampangnya terjerumus dengan hal-hal yang sekarang kita anggap memalukan sekali, misalnya kealayan di facebook). Kita mulai berpikir kritis dan nggak gampang menerima perkataan atau pendapat orang-orang yang usianya lebih tua tanpa argumentasi yang memuaskan kita. Karena apa yang kamu yakini berbeda dengan argumentasi orang-orang yang usianya lebih tua, kamu bahkan nggak mengerti dan sukar menerimanya, sehingga terjadi pemberontakan.

  • Contohnya kita kerap kali nggak menerima dan berpikiran negatif dengan larangan orangtua pulang lebih dari jam 9 malam. Nah, itu adalah salah satu contoh bagaimana kita nggak gampang menerima pendapat orang lain tentang suatu hal, karena argumentasi kita berpendapat bahwa apa yang kita lakukan bukanlah hal yang buruk dan akhirnya kita salah paham dengan kasih sayang orangtua.

Disini, aku merasa bahwa aku sudah mampu memahami dan menjangkau masalah-masalah seperti moral atau pun gaya kehidupan yang beraneka ragam sekarang ini. Setelah itu aku akan menilainya secara sistematis dan argumentatif dimana aku dapat membandingkan plus-minus pada setiap hal yang aku lihat dan alami, sampai akhirnya aku akan menemukan jawaban (yang menurut aku) adalah yang paling tepat. “Paling tepat” tersebut belum bisa dikatakan memang benar-benar tepat, bisa saja apa yang aku yakini nggak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Karena itu remaja sepertiku belum pantas diposisikan sebagai orang dewasa yang mampu mengkaji segala fenomena/peristiwa dengan kejelian analisa dan kematangan pemikiran.

“Membentuk dan membangun jati diri merupakan hal yang sangat sulit dan penuh resiko. Remaja di usia ini harus belajar dan memilih ideologi yang benar dari berbagai ideologi yang disodorkan padanya. Orang-orang yang sukses dalam tahapan ini dan memiliki jati diri yang kuat akan siap menghadapi masa depannya dengan perasaan yang tenang dan kepercayaan diri yang tinggi. Di usia-sia seperti ini, kelompok masyarakat sangat berpengaruh dalam membentuk karakter remaja. Kelompok masyarakat mampu mengontrol dan mempengaruhi perkembangan jati diri para remaja. Karena itu, teman, pemilihan tokoh teladan dalam agama atau non-agama dan gaya kehidupan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter dan perilaku kalangan remaja. Dengan demikian peluang pengembangan diri bagi remaja sangat terbuka lebar. Masa remaja merupakan masa untuk mengenal diri dan mengenal Sang Pencipta. Karena di masa remaja seseorang dapat mengarungi tangga kehidupan dengan mudah dan enerjik maka ia perlu berpikir sebelum bertindak dan bermusawarah dengan orang penyayang dan berpandangan luas hingga ia tidak tergelincir dalam pencarian jati dirinya,” kata Ericsson (dikutip dari taqrib.info)

Yap, benar sekali! Pencarian jati diri seseorang harus didukung oleh lingkungan yang membimbingnya ke arah yang lebih baik. Maka ia perlu berpanduan dengan orang-orang yang memiliki pandangan yang luas. Keluarga. Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang paling dekat dengan seorang remaja sehingga itulah yang terpenting. Sehingga pembentukan diri seseorang dimulai dari lingkungan keluarganya.

“Bapak wajar di usiamu sekarang kamu banyak berontak dan susah diatur, itu sesuatu yang alamiah dan wajar terjadi di usiamu sekarang, tapi yang bapak minta… jangan sampai kehilangan arah. Tetap jaga diri dan jauhi dari hal negatif.” – begini kata Bapak aku.

frogNamun zaman sekarang, lingkungan keluarga nggak cukup untuk meng-handle seorang remaja kekinian. Bahkan dari sebagian mereka (bahkan aku sendiri) nggak terlalu dekat dengan keluarga, malah lebih dekat dan terbuka dengan orang lain. Yak, bisa saja itu adalah pacar (jika punya) atau sahabat-sahabat dekat. Aku lebih mengkhususkan kepada pacar, karena untuk banyak hal aku lebih terbuka dengan pacar daripada orang lain. Dan beruntungnya aku bersama seorang laki-laki yang mau bersabar dan pelan-pelan mengajariku untuk menjadi dewasa. (Oh, so damn glad I found him!

Terimakasih untuk dua laki-laki hebat ini. :) Oh iya, Selamat Hari Ayah buat Bapak, seorang yang berharga dengan kasih sayang tiada muara untuk berhenti menyayangi anak-anaknya. (12 November 2013).

Dan, Selamat Tanggal 21 untuk yang ke-15 kalinya buat laki-laki kesayangan aku, Rabil Billy Hirsapa (21 November 2013).

– diatami muftiarini

 

Sudut Pandang Pribadi: Idealisme.

“Kamu itu kaya pengemis, tau nggak.” — Pikiran, 2:00 dini hari.

Begitu kata pikiranku, yang bersemanyam dalam otakku belakangan ini. Ia seolah menamparku. Keras, tapi hanya terasa sekilas. Tak membekas. Aku (kini) terbiasa dengan sindiran semacam itu dalam otakku sendiri.

Mungkin kalian juga sama. Terutama buat perempuan-perempuan yang merasa dirinya WOP (Women On Top—bukan ngeres) atau sederhananya, perempuan dengan kegengsian tingkat akut. Ketika berhadapan dengan lelaki yang teramat sangat disayangi, ego sekeras batu karangnya pun akan leleh kayak cokelat juga. Beberapa. Atau mungkin kebanyakan. Kalian, mereka, dan bahkan aku sendiri salah satu dari beberapa atau kebanyakan itu kok. Kalau kata pikiranku, itu namanya mengemis kasih sayang, tapi kalau kata hatiku itu adalah pengorbanan. Penyebutan yang sangat berbeda jauh. Bertolak belakang malah. Mengemis itu identik dengan pengemis; kumuh, lusuh, hidup dipinggir jalan, tidurpun juga dipinggir jalan, nggak punya rumah, nggak punya duit, tapi disini kita menyebutnya dengan kere-kasih-sayang. Pengemis yang dahulu kala adalah pengemis gengsian/cuek/independent, ujung-ujungnya malah mengemis kasih sayang dengan lelaki yang teramat sangat dicintainya. Egonya pun mati. Non-aktif. Semata-mata. Demi laki-laki yang ia kasihi. Sementara pengorbanan lebih kepada hal-hal kepahlawanan. Kalau disini, seperti mengesampingkan realistis dan mencoba bertahan dengan melakukan hal-hal luar biasa yang bahkan menimbulkan luka dihati. Tapi namanya juga pengorbanan, hati yang terluka itu tidak terasa sakit. Hanya sebatas luka namun tak sakit. Karena ia melakukannya berdasarkan alasan yang jelas dan memang pantas.

Dahulu kala, aku berpikir bahwa sifat dan caraku yang seperti ini (egois, cuek, gengsi, dan saudari-saudarinya yang lain) adalah identitas penting dalam diri seorang perempuan. Kalau nggak ada hal-hal itu, maka murahanlah kita. Pikirku seperti itu. Dan selama masa puberku, masa-masa dimana aku mengenal yang namanya pacaran, aku sangat memegang teguh idealismeku. Contoh mungilnya; aku nggak mau SMS duluan sebelum di SMS duluan. Kalau nggak di SMS dan akhirnya dilupakan, aku hanya berpikir sederhana nan simpel; “Yasudah nek, mangnya gue pikirin!” “Bodo amat.” “By the way, yang duluan melupakan itu aku ya bukan kamu. Seenaknya aja!” 

Hakhakhak. Ngakak dulu deh, kalau inget masa-masa lampau.

Namun makin kesini, dewasa ini, aku mendapat banyak pengalaman yang benar-benar membuatku jungkir balik. Menjungkir-balikan pemikiranku. Maka muncullah idealisme baru yang telah lahir dalam benak, pikiran,  dan menjalar ke seluruh tubuhku.

“Idealisme pada dasarnya adalah perubahan, terlepas dari apakah perubahan itu baik atau buruk. ” — Ajie Adnan.

Dalam kondisiku. Aku sedang dalam kondisi dimana idealisme lamaku tak bisa memecahkan masalahku dengan laki-laki yang kini telah bersamaku kurang lebih 10 bulan. Kalau aku pikir sekarang, dengan pikiran yang masih terombang-ambing karena usia (16 tahun—masa super-labil), pemikiran tentang cuek, careless, gengsi, bla, bla, bla itu sangat sangat sangat harus dijauhi saat berada dalam hubungan yang diseriusi. Karena akan membawa malapetaka nantinya. Tapi sayangnya, aku sudah terlalu lama bergelut dalam idealisme lamaku sehingga mematikan sistem saraf kepekaanku terhadap perasaan orang lain. Aku juga sempat heran, kalau aku pikir-pikir lagi sikapku dulu, kok bisa ya hal sekecil namun menyakitkan seperti itu nggak aku sadari dan dengan polosnya meluncur dari mulutku? Polos, sepolos nan semulus perosotan Taman Kanak-kanak.

Dan ketika dihadapkan dengan realita kehidupan bahwa idealisme seperti itu tak akan eksis lama-lama dalam pergaulan serta hubungan dengan laki-laki manapun, aku pun tersadar, maksudnya agak tersadar tapi aku memang benar sadar kok (?!)  Tapi ya-gitu-deh, kadang-kadang hilang kesadaran dan kembali dengan idealisme lama lalu menyesali kebodohan tersebut dan berjanji tak akan seperti itu lagi. Tapi esoknya pun, aku melakukannya lagi. Dan menyesal lagi. Apa aku belum sadar? Tapi aku merasa sudah sadar kok, cuman pikiran dan saraf motorikku belum dapat menerima dengan lapang dada. Selapang yang diberikan oleh hati.

Hati tentu membatin kalau idealisme baru tersebut harusnya dijalankan dengan baik dalam kehidupan sehari-hariku. Ruginya apa sih? Itu adalah tindakan berdampak besar. Peduli dengan orang-orang sekitar, peka dengan perasaan lain, serta embel-embel lainnya tentang idealisme baru tersebut. Pikiran kadang mengiyakan, begitupun motorik. Namun ketika sedang menjalankan idealisme baru, aku menerima penolakan. Pe-no-la-kan. Ignorance. Hal yang paling hina yang pernah dirasakan dan jangan sampai di rasakan oleh perempuan gengsi sepertiku. Pikiran serta motorikku mundur cepat kembali ke dalam idealisme lama. Mengomeli hati yang menghasut tak baik untuk image-ku sebagai perempuan emansipasi dan tak dijajah oleh laki-laki! Aku ini generasi Ibu Kartini, tak boleh disakiti. Aku ini perempuan yang harus diindahkan bahkan dihormati. Aku seperti mengutuk diriku untuk berjanji agar pelecehan tersebut tak terulangi. Oke, itu berlebihan. Tapi sayangnya pikiranku memang terlalu sarkatis dan lebaytis.

R.A.-KartiniIbu Raden Ajeng Kartini. 

Tapi aku diajarkan oleh laki-laki itu. Melalui teori dan praktek, seperti guru yang mengajarkan muridnya. Bahwa idealisme lamaku salah. Tapi ia pun membenarkan beberapa bahwa idealismeku ada benarnya; perempuan harus gengsi, namun di kondisi-kondisi tertentu.

“Idealisme adalah sumber perubahan. Perubahan terjadi karena tidak adanya kepuasan terhadap kondisi terkini, perubahan terjadi karena ada ‘kesalahan’ atas suatu hal, perubahan dapat dilakukan hanya bila ada keberanian, dan keberanian untuk melakukan perubahan merupakan implementasi nyata dari idealisme.” — Ajie Adnan.

Aku berpikir lama untuk ini. Tentang perubahan. Perubahan atas pemikiran baru dan semoga aja berefek terhadap kepribadian yang baru pula, tentu aja yang lebih baik. Aku merasa perubahan yang aku lakukan ini perlu dilakukan secara riil. Idealisme lama perlu dibenahi. Karena aku merasa ada kesalahan dalam idealismeku dan dengan tekad yang bulat, aku ingin membenahi diriku sepenuhnya. Dan yang sedang kukerjakan sekarang masih dalam proses awal—gampang terombang-ambing bahkan terseret arus. Yang aku butuhkan saat ini adalah seseorang yang bersedia menjadi ‘jangkarku’ sehingga aku tak mudah diseret arus, serta seseorang yang sabar mengajari dan menungguiku. :)

“Namun perlu diperhatikan juga bahwa idealisme tidak bisa berdiri sendiri. Idealisme juga memerlukan realisme. Idealisme dan sikap realistik bagaikan dua sisi mata uang yang saling melengkapi satu sama lain secara absolut. Tanpa adanya sikap realistik, idealisme hanya akan menjadi angan-angan utopis: bagaikan mimpi di siang bolong. Sikap idealis tanpa sifat realistis hanya akan menjadi bunga tidur dalam kehidupan yang tidak lebih baik dari khayalan orang sakit jiwa.

Perlu ada keseimbangan koheren antara sifat idealisme dan realistis agar menjadi manusia seutuhnya. Sikap realistis diperlukan untuk memahami dan menginsyafi kondisi riil di lapangan. Sedangkan sikap idealis diperlukan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kekurangan yang terjadi dalam realita. Tidak mungkin seorang manusia hanya mengikuti arus (realistis) selama-lamanya, atau hidup akan menjadi statis. Tidak mungkin juga seorang manusia hanya mengutamakan idealismenya semata dengan mengacuhkan realita kalau tidak ingin dikatakan seorang pemimpi.” — Dikutip dari artikel Ajie Adnan; Filsafat; Kompasiana.com

Ditulis pukul 02.36 dini hari,

– d

Salah paham itu sederhana.

Ketika kamu harus pintar-pintar memakai kata akhiran, seperti misalnya: “-dah”, “-deh”, “-ya”, “-sih”, “-kan”.

“-dah”

Arti akhiran “-dah” dalam sebuah kalimat memberitahukan secara kasat mata bahwa sebenarnya dia berharap sesuatu, pasrah, merasa nggak puas, dan nggak ikhlas. tapi dia berusaha untuk menerimanya dengan setengah hati. contohnya begini:

4517_0_1

“-deh”

Akhiran “-dah” nggak jauh beda sama akhiran “-dah”. cuman kalau akhiran “-deh” itu bener-bener menunjukan bahwa si pembicara nggak ikhlas dengan ajuan/pendapat lawan bicaranya. karena dia nggak ikhlas dan akhirnya mencoba untuk menerima walau dengan berat hati, jadi kalimat yang terlontar dari bibirnya sangat menunjukan bahwa dia benar-benar nggak bisa menerima. agak panjang lebar ya, ini dikasih contoh aja: b;loij

“-ya”

Akhiran “-ya” itu banyak artinya, tergantung bentuk dan maksud kalimatnya. langsung contoh aja: 4329419_700b_large Ketika seseorang mengirimi SMS ato bilang seperti itu, (s)he mean it for sure. daripada kalimat tanpa akhiran “-ya”, seperti sebuah suruhan yang terdengar dingin dan nggak ikhlas. wajah si penyuruh biasanya seperti ini sih… memecenter-vs-9gag-9gag-wins_o_1222971 tapi kalo memakai akhiran “-ya” terdengar lebih halus. intinya kalimat itu menjadi +++. beda lagi kalo akhiran “-ya” untuk jawaban ini… 4517_0_1   Tentu aja dia nggak benar-benar memaafkanmu. setengah hati mengatakan “-ya”, padahal faktanya dia nggak se-“ya” yang dia katakan.

“-sih”

Akhiran kata ini menunjukan bahwa dia bertanya secara agresif dan sangat kepo. atau mengajukan kalimat pernyataan yang agak nyinyir dan sinis. images “Cowok itu kenapa sama ceweknya sih? / “Kok bisa putus sama pacarnya sih?” Kalimat tanya ini uda nunjukin kalo dia bener-bener kepo dan rada agresif kan? the-difference-of-memecenter-and-9gag_o_701600

“-kan”

Arti akhiran “-kan” lebih kepada menyakinkan sebuah kalimat. entah mungkin dia bertanya atau sedang mengatakan pernyataan yang sangat dia yakini. tumblr_m4c6k4LJJA1qzxzwwo1_500-vert

***

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, kata-kata itu nggak dimasukan dalam pembahasan mengenai kata akhiran. tapi kamu tau nggak, hal ini harusnya kita perhatikan dan dibahas untuk mengetahui guna dan efek sampingnya kalo salah digunakan. apalagi buat kamu-kamu yg nyaris 100% berhubungan dengan pacar kamu lewat SMS… maksudnya LDR ya. hal ini sangat perlu di perhatiin sehingga kesalah pahaman itu dapat dihindari. karena salah paham itu awalnya sangat sederhana.

entahlah, ini hanya argumen seorang semi-wanita yg belum genap 17 tahun. aku menulis post ini berdasarkan pengalaman di kehidupanku sehari-hari, entahlah kalau dalam versi kalian. judge? whatever.

-d

Blessing me!

tumblr_m7wtnzOhO81qz4txfo1_500_large Being in Long Distance Relationship in difficult eras and horrible situation, where their love are growing strong everyday to waiting their lovers come back home.

Blessing me.

aku engga hidup di masa peperangan, dimana pasangan-pasangan itu harus berpisah lama dengan kekasihnya dan menjalani hubungan jarak jauh. seperti foto yg di atas, menjelaskan keseluruhan perasaan saat detik-detik perpisahan, hati yang setengah ikhlas, hati yang penuh cinta dan sayang, serta hati yang kuat dan mantap untuk ke depannya. very very meaningful.

Blessing me.

karena aku… masih bisa berhubungan gampang dengan dia. melalui sms, bbm, atau socmed yg udah macem-macem aja. nah sementara di masa itu, pada masa seperti foto diatas, hanya berbekal kirim-kiriman surat yang tentu nyampenya itu ga sekilat bbm masa kini. kalo kamu bersapa ‘selamat pagi’ sama pacar kamu lewat surat dan baru nyampe ke dia dua hari kemudian, lalu dia menyapamu dengan ‘selamat malam’. iya aku tau, ini semacam lirik “you say good morning when it’s midnight” (Jet Lag – Simple Plan)

Blessing me.

khusus untuk aku, serta kalian-kalian yg merasa LDR, entah itu dengan bapak atau ibu atau idolamu atau malah pacar khayalanmu, bersyukur aja bahwa kamu ga harus serepot mereka yg hidup pada masa seperti foto di atas. Blessing me, Blessing us! \(^0^)/

God bless our hearts, may God give much power to our hearts for being in this kind of holy relationship that God trusting mainly for us (few people thought: horrible relationship)diatami :-)