pisces own the sea

An e-diary: I tell people thru pictures and words.

Category: Life

Susu Murni Segar

“Sudah tahu tujuannya ke mana?”

Tanya seorang laki-laki yang berbadan sedikit gempal, tepat duduk di belakang setir mobil.

“Ke mana saja. Yang penting kita bisa segera turun dan merenggangkan badan.”

Jawab laki-laki yang lain, lebih kurus dan ceking, ia lemas. Wajahnya benar-benar seperti orang melarat.

Tidak ada sahutan dari orang yang duduk di kursi belakang, ia satu-satunya perempuan di sana. Sesaat kemudian, baru bicara.

“Bagaimana kalau minum yang hangat-hangat?”

Yang lain bergeming, belum sempat menanggapi.

“Misalnya susu-susuan?” Ia melanjutkan dengan bertanya.

Dijawab dengan kekeh geli, sedikit bergairah, dari dua laki-laki di depannya.

“Boleh. Di sini terkenal dengan susu murni segarnya. Biasanya memang buka jam segini.” Jawab laki-laki pengemudi. “Memang enak diminum tengah malam. Hujan begini pula.”

Laki-laki kurus di sebelahnya menyahut dengan lelucon lain, tidak menanggapi usulannya soal mampir ke susu murni segar. Tetapi sesungguhnya laki-laki itu manut saja, ia juga tidak punya ide lain. Tempat ini bukan teritori yang dikuasainya. Ia pegal, sedikit lapar juga.

“Tempatnya di sini, kok. Di jalan utama kota ini.” Lelaki pengemudi membelokan setirnya ke jalan yang lebih besar, lampu-lampu jalan jauh lebih terang. Memperlihatkan sisa-sisa jantung kota di pelupuk harinya yang mengantuk. Ketiga penghuni mobil itu pun ingin merengek mengantuk kepada semesta, tetapi perjalanan mereka masih panjang. Mereka tidak berniat akan bermalam di kota ini—terlalu melenakan, mereka meski waspada. Apa-apa yang menggoda, akan berakibat buruk ujungnya.

Kedua laki-laki mengobrol hal lain, menggunakan bahasa yang tidak dipahami oleh perempuan di belakang mereka. Meski sepatah-dua patah dipahaminya, ia tidak begitu peduli. Kedua laki-laki tidak juga tertarik untuk mengajak perempuan masuk ke dalam obrolan. Perempuan ini, yang disadari oleh mereka, memang cenderung sedikit bicara. Bukan pemalu, kata-kata yang tepat mungkin ia memang tidak peduli—bahkan terkesan dingin, kadang-kadang. Mereka sering membatin begitu, yang bikin mereka seringkali salah tingkah.

“Saya pesan susu jahe. Panas.” Lelaki sedikit gempal tersebut menyebutkan pesanan sambil mencomot sate paru-paru sapi di dekatnya, lalu duduk.

“Saya STMJ.” Laki-laki ceking menjulurkan jari telunjuknya ke udara.

Teman seperjalanan mereka, perempuan satu-satunya, nampak terkesima dengan mereka. Tanpa perlu melihat daftar menu, mereka sudah tahu apa yang akan dipesan. Seperti sudah kemari bertahun-tahun. Perempuan tersebut merasa seperti orang asing, ia memang belum pernah ke tempat seperti ini. Ia gagu mengucapkan menu yang akan ia pesan, karena tidak tahu bagaimana rasanya. Tentu saja!

“Eerr.. Saya mau SUPERMAN! Susu Putih Segar Manis! Panas!” Perempuan tersebut akhirnya menentukan pilihannya pada nama menu yang menurutnya menarik saja, dan rasanya aman untuk seleranya.

Kedua laki-laki mengobrol. Obrolan soal kampus—bagaimana hubungan asmara antara dosen dan mahasiswi itu, apa masih jalan? Coba bayangkan, seorang calon mahasiswa berprestasi, yang akan mewakili fakultasnya ke tingkat universitas, bersikap kasar dan tidak berpendidikan kepada sekuriti kampus? Kalian sudah lihat nilai semester ini, bagaimana, memang sedikit naik, tidak apalah yang penting tidak mengulang, ya kan? Di kampus akan diberlakukan kembali jam malam, konyol, apa dipikir akan ada teror seperti waktu itu? Hei! Saya lupa mengembalikan buku perpustakaan sejak semester awal, sialan, apa saya akan kena sanksi mahal?

Menarik untuk disimak teman perempuan mereka. Malah, banyak hal yang ingin ia bicarakan soal kampus juga. Soal topik-topik yang berganti dengan sangat cepat, bahkan mungkin lompat-lompat, tidak karuan oleh dua lelaki itu. Tapi ia memilih untuk menyimak, sesekali menimpali dengan, “Oh ya?” “Saya tahu itu. Pernah dengar.” “Apa lagi yang kau tahu?” “Hm.. menarik.”

Ia tidak begitu menyenangi obrolan yang tidak habis di satu topik dan dengan mudah berganti ke topik-topik yang lain–yang juga tidak dibahas sampai habis. Kepalanya seperti berputar. Sehingga ia berpaling dan menyesap supermannya.

“Bagaimana dengan kamu, putus hubungan paling sakit seperti apa yang pernah kamu rasakan?”

Laki-laki yang bertanya, tersenyum menggoda, memperlihatkan sedikit lesung pipit di tengah pipinya yang gempal. Yang ceking tersenyum juga, menggoda, dengan wajah antusias ke arah teman perempuan yang duduk di sebelahnya.

Oh, rupanya obrolan soal kampus sudah berpindah ke persoalan lain. “Ah.. Err..” Perempuan tersebut sedikit salah tingkah, kaget karena pertanyaan mendadak yang tidak diduga mengarah padanya. “Saya susah mengingatnya. Itu sudah lama.”

“Alah! Mana mungkin lupa. Yang kami tanyakan ini yang ‘paling sakit’ lho.” Seringai laki-laki gempal semakin lebar, semakin menggodanya.

Perempuan berpikir cepat. Sesungguhnya gambaran kejadian-kejadian yang menimpanya setahun ini langsung muncul pertama kali ketika pertanyaan tersebut dilontarkan kepadanya. Itu juga yang membuatnya jadi salah tingkah, karena bahkan dari perjalanan panjang mereka di dalam mobil, setengah dirinya berkelana ke dalam gambaran yang terpotong-potong tentang kejadian itu.

Ia baru saja akan membuka mulutnya, tetapi urung. Matanya mengawas ke kiri dan kanan, dua laki-laki tersebut masih menatapnya antuasias dengan mata menggoda. Menyebalkan.

“Sebentar, saya masih berpikir. Sulit juga, ya.”

Kedua laki-laki tersebut tertawa, sedikit menikmati kekacauan dalam diri perempuan tersebut oleh keingintahuan mereka.

Sungguh sulit, membicarakan hal yang bahkan tidak teman dekatnya tahu tentang ini. Mungkin ia pernah cerita, tetapi dalam versi yang ia kondisikan terhadap mental dan preferensi lawan bicaranya. Tidak dalam bentuk orisinilnya.

Cukup lama berpikir, merangkai kata dan cerita, akhirnya ia bicara dengan nada tenang. “Setahun yang lalu. Saya mengakhiri hubungan saya dengan orang yang hampir dua tahun saya pacari.”

Ia menarik nafas agak panjang, tetap tenang, dan menghembuskannya. Sebagai tanda ia akan bicara panjang-lebar, mungkin menjadi obrolan terpanjangnya selama ia berteman dengan kedua teman laki-lakinya ini.

“Saya bingung harus memulainya dari mana. Alasannya.. prosesnya.. kejadiannya.. Ah! Bagaimana, ya?”

“Saya putus karena dia, laki-laki yang saya pacari itu, memilih bersama perempuan lain yang sudah dikenalnya 4 tahun sebelumnya. Seorang teman lama.”

“Dia bilang, kesempatan untuk bisa dekat dengan perempuan itu adalah sekarang. Dan dia sangat menanti waktu seperti ini.”

“Tak lama, dia cari saya kembali. Dia bilang menyesal dan memohon saya kembali. Lalu saya kembali.”

“Beberapa bulan hubungan kami berjalan dengan baik. Dia sangat baik kepada saya. Sampai akhirnya saya tahu, sejak beberapa bulan itu dia nggak pernah pulang ke rumahnya. Dia pulang dan tinggal bersama perempuan itu, teman lamanya. Bersembunyi-sembunyi, agar saya tidak tahu.”

“Belakangan saya tahu mereka hampir memiliki seorang anak, tetapi gagal karena perempuan tersebut, pada suatu malam, terlalu banyak minum alkohol dan janin dalam rahimnya keguguran.”

“Saya tahu dari dia sendiri. Dia cerita. Sayangnya, dia nggak meminta maaf.”

“Tetapi saya memaafkannya.”

“Kami berbaikan kembali. Hubungan berjalan cukup baik, sampai kemudian.. dia diam-diam memiliki hubungan dengan seorang perempuan. Seorang teman lama, yang lain. Yang sudah dikenalnya 3 tahun sebelumnya.”

“Dalam ketidaktahuan saya, mereka sempat tinggal bersama. Perempuan itu curiga ia hamil, karena sudah lewat sebulan nggak ada tanda datang bulan.”

“Ternyata nggak. Nggak hamil. Hanya.. mungkin karena beban pikiran menganggu hormonnya. Entahlah.”

“Pacar saya—ah, dia—bercerita hal ini kepada saya. Dia juga bilang, dia menaruh harapan terhadap perempuan itu. Dia mencintai perempuan itu. Dia pun tidak mengejar saya, meminta maaf juga nggak.”

“Saya menganggap pernyataan jujur itu sebagai akhir dari hubungan kami.”

Kedua laki-laki yang di depan dan di sampingnya diam, mendengarkan baik-baik. Seringai mereka sudah terkulum rapat-rapat dalam bibir mereka. Yang gempal menatap ke arah perempuan di depannya, lurus—nanar; yang ceking hanya diam dengan mata mengarah ke gelasnya—pikirannya seolah loncat dari kepalanya dan pergi pada suatu malam ketika ia melihat kekasihnya selingkuh.

Perempuan tersebut sungguh tidak ingin merasa dikasihani, sungguh. Ia tidak khawatir ia akan menangis karena sesak di dadanya.

Ia lebih khawatir dengan dirinya yang tiba-tiba banyak bicara. Sedikit menakutkan baginya. Rasanya ia telah melewatkan hal-hal berharga dengan banyak bicara. Ia memusatkan perhatian tertuju padanya, ini tidak baik untuknya.

Sementara dua lelaki di dekatnya, ia menerka-nerka. Apa yang sedang dipikirkan oleh mereka sehingga begitu lama terdiam?

Mungkin mereka terheran-heran dengan jumlah kata yang keluar dari mulutnya bisa sebanyak ini. Mungkin akhirnya mereka tahu dibalik perangai yang terkesan dingin dan acuh, tersembunyi kisah yang menyedihkan. Mungkin mereka juga bersimpati terhadap apa yang terjadi padanya—dua kali dibohongi dengan kasus yang tidak beda jauh, dua perempuan dari masa lalu. Atau mungkin mereka sedikit lega, setidaknya mereka tahu sesial-sialnya dan sesakit-sakitnya cara putus mereka, ada orang yang lebih sial dan sakit dalam urusan putus cinta.

 

 

 

Advertisements

20

Tulisan ini sebetulnya ungkapan self-center, karena tujuan menghadirkan tulisan ini untuk menyambut kegemasan diri kembali menulis dan menyelamati diri atas sebuah pencapaian–bertahan hidup sampai umur 20 tahun! Hore!

Belakangan ini saya suka sekali menulis untuk teman-teman saya, terutama tulisan menyelamati hari kelahiran mereka. Tulisan yang tidak hanya berisikan ucapan selamat atas usia yang bertambah setahun–berkurangnya sisa hidup?– kepada mereka, tetapi juga paragraf yang menceritakan betapa sangat menggairahkan sekaligus menakutkan dunia setelah berumur 20 tahun.

Saya banyak belajar dari pengalaman hidup sebelum menginjak 20 tahun, terutama masa transisi dari umur belasan menuju 20-an. Katakan saja itu umur 18 dan 19 tahun. Di umur itu saya baru lulus sekolah menengah atas, melepas masa-masa memakai seragam, dan berangkat ke pulau Jawa untuk melanjutkan studi. Meninggalkan tanah kelahiran seperti bayi yang lepas dari ketiak ibunya. Ketiak ibu identik dengan dekapan hangat dan nyaman yang selalu ampuh menina-bobokan bayinya. Begitu pula dengan tanah kelahiran saya, telah menjadi tempat yang paling hangat, paling aman, dan paling nyaman di muka bumi. Meski pun saya selalu iri dengan tanah Jawa, bahwa orang-orang di sana selalu mendapatkan segala bentuk kemajuan, tetapi kemajuan tersebut tidak dengan mudah mengalahkan kenyamanan tempat saya dibesarkan. Mungkin bukan soal saya lahir di sana, tetapi soal bagaimana tanah tersebut membesarkan saya, mendidik saya dengan kearifan lokalnya, sehingga sangat lekat dan berhasil memuat definisi ‘tanah kelahiran’ yang sesungguhnya.

Persoalan demikian pasti dirasakan oleh siapapun yang pergi merantau, jauh meninggalkan tanah kelahirannya. Hal lainnya yang dirasakan saat umur 18 atau 19, ialah soal bagaimana menjawab pertanyaan dari kehidupan lama dan bagaimana merespon kehidupan baru. Menyoal kehidupan lama sangat perlu, sebagai cara merefleksi diri atas apa saja yang sudah dilakukan selama ini. Kehidupan lama ialah kehidupan yang pernah ataupun masih dilakukan. Banyak hal dari kehidupan lama yang saya bawa pada jenjang kehidupan baru. Hal paling signifikan dalam masa transisi saya, ialah soal percintaan. Lagi-lagi berkutat pada satu hubungan yang sudah lama usang. Mempertahankan prinsip-prinsip lama yang berusaha dimaknai pada kehidupan baru dengan pikiran, yang mungkin, lebih mapan. Dan seringkali berujung bentrok dan sukar dibenahi. Tidak mengelak. Masa perkuliahan akan membawa siapapun pada hal-hal yang lebih rasional. Dan cinta tidak termasuk di dalamnya.

Dan soal kehidupan baru yang saya bicarakan di sini adalah kehidupan di tanah rantauan, dengan segala kelimpahan pengetahuan dan tantangan, serta kenaifan yang sangat menggiurkan.

Persoalan-persoalan demikian sering disebut dengan krisis umur, di mana terdapat umur-umur yang menjadi titik balik dari kehidupan setiap individu. Atau pada umur tertentu menjadi umur yang paling penting dan menentukan bagi dirinya. Yusuf, di film 3 Hari Untuk Selamanya, bilang, “Di umur 27 lo bakal mengambil keputusan yang akan mengubah jalan hidup lo.” Bahkan terdapat istilah Club 27 berisikan orang-orang keren yang mati muda di umur 27 tahun, sebut saja dua diantaranya Albert Camus dan Soe Hok Gie (yang tidak disebutkan oleh Yusuf di film). Dan Club 27 bergeser menjadi acuan bagi beberapa kalangan untuk mati muda dan keren di umur 27 tahun.

Sampai di sini, saya hanya bisa merumuskan satu jenjang umur yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Umur 19 tahun, di tahun 2016.

Saya merasa hidup sepanjang tahun 2016 sangat rusuh, laiknya dihajar habis-habisan dari segala penjuru arah. Sebagai individu yang tunggal, saya memang harus menghadapinya sendiri. Bahwa segala resiko dan konsekuensi ditanggung oleh masing-masing individu. Jika saya harus menerima konsekuensi berat untuk melewatinya, maka saya babak belur sejadi-jadinya.

Tetapi selamat, saya genap 20 tahun hari ini. Saya berhasil mencapai pada jenjang selanjutnya, sekaligus berhasil mencegah diri untuk tidak mengakhiri hidup sebelum berumur 20 tahun. Sedikit banyak di tahun 2016 menjadi bahan renungan saya, tentang apa yang telah, sedang, dan akan saya lewati ke depan untuk bertahan hidup. Setidaknya membuat saya tetap waras, tetap memiliki akal, dan rasionalitas yang wajar. Mungkin itu pula yang membuat saya tidak betah berada di tempat umum, lebih banyak melamun (berpikir), dan lebih sering berpergian seorang diri. Bukan sesuatu yang buruk, saya rasa, karena sekarang hal-hal tersebut berubah menjadi cara. Cara-cara yang membuat saya nyaman dengan diri saya sendiri. Cara-cara yang mengubah perspektif saya terhadap masa depan, bahwa setidaknya masih ada hal-hal indah di dunia yang nestapa ini.

Saya berterima kasih atas siapa saja yang hadir dan turut menyertai kebahagiaan saya di umur 20 tahun. Mereka menjadi saksi yang melihat saya bahagia setelah hampir dua tahun masa kelam dalam jenjang kehidupan saya.

Sampai bertemu tahun depan, dengan lebih banyak kebahagiaan dan keindahan bersama saya.

***

Menyudahi post ini, saya ingin memamerkan sedikit kebahagiaan saya di tanggal 24 Februari 2017 dengan foto-foto yang sudah saya touch up sekenanya. Hari itu saya ‘diculik’ ke MesaStila, Losari, Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Kebetulan hari itu mendung dan sorenya hujan lebat. Hujan lekat kaitannya dengan berkah, maka saya percayai hujan di hari ulang tahun membawa kebaikan kepada saya sepanjang tahun ini.

Foto diambil oleh Diatami Muftiarini (24/2).

500 Days of Rabil

“Ibaratkan hubunganmu seperti sedang bermain arum jeram seru di air dangkal lalu berubah menjadi hubungan yang berlayar di laut dalam yang tenang. Berlayar di laut dalam yang tenang memang membosankan. Tapi ingat, nggak ada orang yang pergi jauh dengan arum jeram.”

A moment of love
A dream
A laugh
A kiss
A cry
Our rights
Our wrongs

Won’t stop ’til it’s over

– January 3, 2014.

498 of (500)

You ask yourself for thousand times, how do I know when its over, how do I know when I’ve to try more little time?

Your mind keeps thinking you’ve had enough, but the heart keeps telling you don’t give up. The person that you will never truly get over, even when you’ve convinced yourself you’ve moved on. It must be true love, yup?

489 of (500)

Do you ever do this, you think back on all the old times you’ve had with someone and you just replay it in your head over and over again and realize that you feel more in love with memories than the person standing in front of you?

Nobody said it was easy
It’s such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard

Oh, take me back to the start.

475 of (500)

I can’t describe happiness even in words. I am so glad to have you..

427 of (500)

645338707982There’s so much girls around you.

645338691922More attractive, prettier, sexier, and live closer than me.

645338606301(I want) you realize that you have me as yours. (I want) you to convince me that I am the only one. Keeping your promise tell how much you care of me.

645338550307(I want) you look at me like I am the only woman in the world that you see. Makes other women jealous of me.

645338505755…though miles may lie between us,

645338454240But we are never far apart in heart.

Mataram on October 21, 2013.

 

412 of (500)

Kata mereka, firasat adalah kata hati yang terlupa. Kata mereka pula, firasat adalah cara alam memberitahu kita akan sesuatu di masa depan. Firasat tidak menjadikan kita lebih pandai daripada yang lain. Sering kali firasat justru menjadi siksa (Rectoverso).

Aku mungkin sudah beribu-ribu kali meminta pikiranku untuk berhenti memberiku banyak hal untuk berpikir tentang kemungkinan yang dapat terjadi terhadap jarak. Terutama kemungkinan terburuk. Jarak membuatku gusar dan khawatir bagaimana kabarmu disana. Apa yang kamu lakukan? Pergi kemana? Bersama siapa? Yang aku paling takutkan adalah pertanyaan terakhir. Pertanyaan yang seperti teror bagiku dikala situasimu saat itu memang wajar dikelilingi banyak orang baru, terutama perempuan. Becandaanmu tentang hal itu bukan hal yang lucu buatku, yang ada aku makin khawatir dan pikiranku semakin menjadi-jadi. Aku ingin dibuat aman dan tenang, aku butuh kalimat magismu.
Ini mungkin adalah awal aku menjadi protektif terhadapmu. Mungkin ini awal aku menjadi pacar yang cemburuan. Mungkin pula adalah awal aku akan membuatmu semakin risih dengan sikapku. Tidak ada yang salah kurasa, karena ini sesuatu yang wajar dirasakan oleh seorang pacar yang menyayangimu dan tidak ingin posisinya dilengserkan oleh orang lain yang hidup lebih dekat denganmu.

Karena yang disana tidak akan pernah cukup seperti yang disini.  Yang setia akan kalah dengan yang sedia. Dan pada akhirnya, yang teristimewa akan terkalahkan dengan yang selalu ada.

397 of (500)

578560140916Happy 22nd birthday!

“22 is basically the only age you can use as leverage. Meaning that because it’s the exact age between life-as-you-know-it and what will later be known as ‘real life’ (that’s scientifically proven, of course), people expect you to make some mistakes. Mistakes like overcooking a pot-roast or dating someone who may not be right for you. And that’s okay, because heck, you’re just 22.” – Shanelle Kaul

Stop talking and start listening. 
“Our default during this time can sometimes to be to assume we know most of the answers. Even if you do, the outlook, perspective, vantage point (right or wrong) of another will expand your horizon and context. Go into everything with a humble assumption that you can learn something from every single person in the room, then listen first and ask questions after. – Azita Ardakani, Founder, LoveSocial 

Look Ahead
“Being behind isn’t about comparing yourself to other people. You’re behind in your 20s if you can’t get the life you want for yourself by your 30s or 40s. Dare to be intentional with your life, and to be real with yourself about what you think you may want in 10 years. If that’s too scary, ask this question: If I keep living my life exactly as I am now, do I like where I’ll be in five years? If not, then something needs to change because that’s where you’re on track to wind up.” – Meg Jay, clinical psychologist and author of The Defining Decade: Why Your 20s Matter – and How to Make the Most of Them Now

Don’t Smoke (Noted: The important point)
Nothing chops years off your life faster than smoking. While the risks of smoking have been well publicized, an unbelievable 20% of adults still smoke. While smoking will take years off your life, it can also make many of the years that you do have rather miserable. The good news is that even if you smoke now, quitting will give you tremendous benefits.

Most of all, I wish I’m not that girl who may not be right for you in your 20s. But yeah, happy birthday my not-a-boy-but-a-man!

382 of (500)

5513614583927 September 2013 // Kencan terakhir sebelum akhirnya kamu harus balik ke perantauan diseberang sana. Kencan di pantai dan lagi-lagi, sampai matahari terbenam.

Empat puluh dua hari; sebulan lebih sebelas hari. Terimakasih untuk waktu yang sudah banyak kamu luangkan. Dan maaf untuk waktu yang jarang aku luangkan untukmu, banyak hal yang membuat keadaannya seperti ini, ya, kamu tahu kita sudah membahas hal ini sebelumnya. Semoga kamu menerima dan melupakannya, sehingga tidak ada pembahasan masa lalu diantara kita lagi. Hari-hari berlalu sangat cepat ketika kita menikmatinya. Besok adalah hari keberangkatanmu. Sementara yang kuinginkan adalah mengulang awal pertama kedatanganmu. Kembali dekat tanpa terpisahkan jarak diantara raga. Lalu aku dapat memelukmu secara nyata. Atau hanya sekedar menyentuh, memegang, dan mengenggam tanganmu. Bermain di pantai lebih jauh lagi. Mengunjungi tempat-tempat yang belum sempat kita datangi berdua. Aku hanya ingin tidak terpisahkan jarak. Sehingga aku dengan leluasa memilikimu tanpa merasa khawatir. Entahlah, aku merasa sangat khawatir jika berjauhan sekarang. Merelakanmu pergi adalah hal tersulit. Berusaha keras menjauhi pikiran buruk tentang hubungan kita membuatku sedikit depresi, karena aku tetap saja memikirkannya. Aku merasa tidak yakin dengan perpisahan kali ini. Aku memikirkan hal buruk dan pula hal terburuknya. Aku tahu itu hanyalah pikiran nakal, bertarung dengan pemikiran sendiri adalah hal yang biasa kulakukan namun kali ini terasa lebih nyata.

Aku mungkin akan menghadapi masalah yang pelik dan kapan saja bisa berakhir dengan perpisahan, lalu aku akan ditinggalkan seperti kisah-kisah serupa, pikirku.