by diatami

Setidaknya ada kelegaan disana, walaupun terselip rasa takut untuk menghadapi respon-respon yang bisa saja membuat kelegaan itu berubah menjadi penyesalan.

Setidaknya aku sudah berkata jujur dan mengungkapkan apa yang aku pendam. Aku tidak pandai dalam mengurung rasa, aku selalu tak kuat untuk tidak mengatakan apapun yang membuatku cemas. Diam dan tidak melakukan apa-apa adalah tindakan seorang pengecut, atau biasa aku sebut sebagai tindakan terlalu-hati-hati guna menghindari kemungkinan terburuk dari tindakan tersebut. Tapi apalah itu semua! Pura-pura untuk merasa tidak baik bukanlah hal yang salah toh. Siapa yang bisa menyalahkan hati seseorang? Kita saja tidak mampu untuk memilih seseorang untuk kita jatuh cintai. Kita bisa saja memilih seseorang untuk kita jatuh cintai karena parasnya atau hal lainnya yang kita sukai, saat itu kita hanya jatuh di mata dan tidak pada hati. Lalu mengapa? Setiap yang hanya jatuh di mata tidak akan bertahan lama seperti ia yang jatuh pada hati. Begitulah, tiba-tiba saja hati sudah berlabuh padanya, seseorang yang bahkan tidak terpikirkan untuk kita jatuh cintai. Siapa yang bisa menyalahkan hati? Kalau sudah jatuh, hati tidak mau tahu. Sama seperti rasa sakit. Kalau sesuatu tak begitu nyaman dengan hati, persetan dengan apapun, hati ini akan tetap sakit. Meski berbagai macam alasan sudah di lontarkan, beribu jenis alasan logis di utarakan, hati tetap merasa sakit (walaupun dapat menutupinya dengan sugesti diri bahwa semua akan segera membaik). Tapi tetap saja toh, tetap ada rasa sakit. Berjuang untuk melawan rasa sakit itu sangat pelik. Alot. Aku akan angkat tangan tinggi-tinggi kalau masalah hati ini yang sakit. Aku tidak bisa tinggal diam. Aku akan kehilangan kendali diri. Aku tidak bisa berpura-pura mengatakan bahwa aku baik-baik saja. “Kebohongan terbesar wanita adalah bahwa ia baik-baik saja pada nyatanya ia tidak.” Aku tidak pernah ingin membohongi diri sendiri, apa gunanya mulut dan kemampuan berbicara serta bersuara jika tak digunakan untuk mengeluarkan pikiran dan isi hati. Aku hanya sedang mempergunakan bagian-bagian tubuhku dengan semestinya. Apa ada yang salah?

Yah.. mungkin aku salah. Karena aku bukanlah siapa-siapa yang berhak untuk sakit hati dan melarang banyak terhadap hidupnya. Aku bahkan bukan keluarganya, tidak pula isterinya. Aku hanya sebatas pasangan yang saling mengikat janji di senja hari itu. Tapi aku tidak bisa memungkiri apa yang aku rasakan. Rasa egois memiliki sepenuhnya. Kalian bisa bayangkan, jika seseorang yang kamu sebut ia adalah kekasihmu memiliki perasaan khusus dengan lawan jenisnya selain padamu. Dia akan bercerita tentang wanita itu. Tentang bagaimana suaranya, penampilannya, gaya rambutnya, apapun tentang wanita itu. Ia menceritakan dengan lancar dari apa saja yang pernah wanita itu lakukan, dari yang terbaru hingga yang terburuk. Dan bagaimanapun wanita itu, ia tetap selalu mengaguminya. Perasaan khusus yang membuatmu sesak dan susah bernapas kala mendengar itu. Kamu bisa melihat raut wajah kekasihmu ketika menceritakannya.

Ia terlihat bahagia.

Aku memberithunya segalanya. Bagaimana rasanya menjadi seorang kekasih yang pasangannya mengistimewakan wanita lain. Seorang pasangan, yang sampai rela malam-malam pergi ke rumah seorang wanita ketika wanita itu membutuhkan teman mengadu nasib dan rela terbangun sampai subuh demi mendengarkannya bercerita. Tak ada kekasih yang tidak sakit hati melihat pasangannya seperti itu, terlebih ketika ia sudah jujur, menjelaskan kondisinya, bagaimana perasaannya, sampai pengorbanan yang dianggap tak perlu untuk dibeberkan pun akhirnya di jelaskan, namun semua itu tak sedikitpun menggerakan hati pasangannya yang hatinya hanya tergerak untuk wanita lain yang bahkan tidak melakukan apa-apa untuknya. Ia pun sadar perbuatannya akan sangat menyakiti hati kekasihnya, tapi ia tetap tidak bisa menahan diri dan hatinya. Ia tetap melakukannya. Ia melakukannya dalam keadaan sadar.

Air mata rasanya terlalu lelah untuk sekedar menitik. Hati pun sudah lelah menahan logika yang terus berunjuk rasa, bahwa sudah tak perlu lagi bertahan. Lalu, yang dapat aku lakukan sekarang adalah menunggu rasa ini mendingin dan berhenti dengan sendirinya.

Terimakasih sudah segan mendengarkan,

Teruntuk kekasih yang berbahagia.

Februari, 2014.

Advertisements