Sudut Pandang Pribadi: Idealisme.

by diatami

“Kamu itu kaya pengemis, tau nggak.” — Pikiran, 2:00 dini hari.

Begitu kata pikiranku, yang bersemanyam dalam otakku belakangan ini. Ia seolah menamparku. Keras, tapi hanya terasa sekilas. Tak membekas. Aku (kini) terbiasa dengan sindiran semacam itu dalam otakku sendiri.

Mungkin kalian juga sama. Terutama buat perempuan-perempuan yang merasa dirinya WOP (Women On Top—bukan ngeres) atau sederhananya, perempuan dengan kegengsian tingkat akut. Ketika berhadapan dengan lelaki yang teramat sangat disayangi, ego sekeras batu karangnya pun akan leleh kayak cokelat juga. Beberapa. Atau mungkin kebanyakan. Kalian, mereka, dan bahkan aku sendiri salah satu dari beberapa atau kebanyakan itu kok. Kalau kata pikiranku, itu namanya mengemis kasih sayang, tapi kalau kata hatiku itu adalah pengorbanan. Penyebutan yang sangat berbeda jauh. Bertolak belakang malah. Mengemis itu identik dengan pengemis; kumuh, lusuh, hidup dipinggir jalan, tidurpun juga dipinggir jalan, nggak punya rumah, nggak punya duit, tapi disini kita menyebutnya dengan kere-kasih-sayang. Pengemis yang dahulu kala adalah pengemis gengsian/cuek/independent, ujung-ujungnya malah mengemis kasih sayang dengan lelaki yang teramat sangat dicintainya. Egonya pun mati. Non-aktif. Semata-mata. Demi laki-laki yang ia kasihi. Sementara pengorbanan lebih kepada hal-hal kepahlawanan. Kalau disini, seperti mengesampingkan realistis dan mencoba bertahan dengan melakukan hal-hal luar biasa yang bahkan menimbulkan luka dihati. Tapi namanya juga pengorbanan, hati yang terluka itu tidak terasa sakit. Hanya sebatas luka namun tak sakit. Karena ia melakukannya berdasarkan alasan yang jelas dan memang pantas.

Dahulu kala, aku berpikir bahwa sifat dan caraku yang seperti ini (egois, cuek, gengsi, dan saudari-saudarinya yang lain) adalah identitas penting dalam diri seorang perempuan. Kalau nggak ada hal-hal itu, maka murahanlah kita. Pikirku seperti itu. Dan selama masa puberku, masa-masa dimana aku mengenal yang namanya pacaran, aku sangat memegang teguh idealismeku. Contoh mungilnya; aku nggak mau SMS duluan sebelum di SMS duluan. Kalau nggak di SMS dan akhirnya dilupakan, aku hanya berpikir sederhana nan simpel; “Yasudah nek, mangnya gue pikirin!” “Bodo amat.” “By the way, yang duluan melupakan itu aku ya bukan kamu. Seenaknya aja!” 

Hakhakhak. Ngakak dulu deh, kalau inget masa-masa lampau.

Namun makin kesini, dewasa ini, aku mendapat banyak pengalaman yang benar-benar membuatku jungkir balik. Menjungkir-balikan pemikiranku. Maka muncullah idealisme baru yang telah lahir dalam benak, pikiran,  dan menjalar ke seluruh tubuhku.

“Idealisme pada dasarnya adalah perubahan, terlepas dari apakah perubahan itu baik atau buruk. ” — Ajie Adnan.

Dalam kondisiku. Aku sedang dalam kondisi dimana idealisme lamaku tak bisa memecahkan masalahku dengan laki-laki yang kini telah bersamaku kurang lebih 10 bulan. Kalau aku pikir sekarang, dengan pikiran yang masih terombang-ambing karena usia (16 tahun—masa super-labil), pemikiran tentang cuek, careless, gengsi, bla, bla, bla itu sangat sangat sangat harus dijauhi saat berada dalam hubungan yang diseriusi. Karena akan membawa malapetaka nantinya. Tapi sayangnya, aku sudah terlalu lama bergelut dalam idealisme lamaku sehingga mematikan sistem saraf kepekaanku terhadap perasaan orang lain. Aku juga sempat heran, kalau aku pikir-pikir lagi sikapku dulu, kok bisa ya hal sekecil namun menyakitkan seperti itu nggak aku sadari dan dengan polosnya meluncur dari mulutku? Polos, sepolos nan semulus perosotan Taman Kanak-kanak.

Dan ketika dihadapkan dengan realita kehidupan bahwa idealisme seperti itu tak akan eksis lama-lama dalam pergaulan serta hubungan dengan laki-laki manapun, aku pun tersadar, maksudnya agak tersadar tapi aku memang benar sadar kok (?!)  Tapi ya-gitu-deh, kadang-kadang hilang kesadaran dan kembali dengan idealisme lama lalu menyesali kebodohan tersebut dan berjanji tak akan seperti itu lagi. Tapi esoknya pun, aku melakukannya lagi. Dan menyesal lagi. Apa aku belum sadar? Tapi aku merasa sudah sadar kok, cuman pikiran dan saraf motorikku belum dapat menerima dengan lapang dada. Selapang yang diberikan oleh hati.

Hati tentu membatin kalau idealisme baru tersebut harusnya dijalankan dengan baik dalam kehidupan sehari-hariku. Ruginya apa sih? Itu adalah tindakan berdampak besar. Peduli dengan orang-orang sekitar, peka dengan perasaan lain, serta embel-embel lainnya tentang idealisme baru tersebut. Pikiran kadang mengiyakan, begitupun motorik. Namun ketika sedang menjalankan idealisme baru, aku menerima penolakan. Pe-no-la-kan. Ignorance. Hal yang paling hina yang pernah dirasakan dan jangan sampai di rasakan oleh perempuan gengsi sepertiku. Pikiran serta motorikku mundur cepat kembali ke dalam idealisme lama. Mengomeli hati yang menghasut tak baik untuk image-ku sebagai perempuan emansipasi dan tak dijajah oleh laki-laki! Aku ini generasi Ibu Kartini, tak boleh disakiti. Aku ini perempuan yang harus diindahkan bahkan dihormati. Aku seperti mengutuk diriku untuk berjanji agar pelecehan tersebut tak terulangi. Oke, itu berlebihan. Tapi sayangnya pikiranku memang terlalu sarkatis dan lebaytis.

R.A.-KartiniIbu Raden Ajeng Kartini. 

Tapi aku diajarkan oleh laki-laki itu. Melalui teori dan praktek, seperti guru yang mengajarkan muridnya. Bahwa idealisme lamaku salah. Tapi ia pun membenarkan beberapa bahwa idealismeku ada benarnya; perempuan harus gengsi, namun di kondisi-kondisi tertentu.

“Idealisme adalah sumber perubahan. Perubahan terjadi karena tidak adanya kepuasan terhadap kondisi terkini, perubahan terjadi karena ada ‘kesalahan’ atas suatu hal, perubahan dapat dilakukan hanya bila ada keberanian, dan keberanian untuk melakukan perubahan merupakan implementasi nyata dari idealisme.” — Ajie Adnan.

Aku berpikir lama untuk ini. Tentang perubahan. Perubahan atas pemikiran baru dan semoga aja berefek terhadap kepribadian yang baru pula, tentu aja yang lebih baik. Aku merasa perubahan yang aku lakukan ini perlu dilakukan secara riil. Idealisme lama perlu dibenahi. Karena aku merasa ada kesalahan dalam idealismeku dan dengan tekad yang bulat, aku ingin membenahi diriku sepenuhnya. Dan yang sedang kukerjakan sekarang masih dalam proses awal—gampang terombang-ambing bahkan terseret arus. Yang aku butuhkan saat ini adalah seseorang yang bersedia menjadi ‘jangkarku’ sehingga aku tak mudah diseret arus, serta seseorang yang sabar mengajari dan menungguiku. :)

“Namun perlu diperhatikan juga bahwa idealisme tidak bisa berdiri sendiri. Idealisme juga memerlukan realisme. Idealisme dan sikap realistik bagaikan dua sisi mata uang yang saling melengkapi satu sama lain secara absolut. Tanpa adanya sikap realistik, idealisme hanya akan menjadi angan-angan utopis: bagaikan mimpi di siang bolong. Sikap idealis tanpa sifat realistis hanya akan menjadi bunga tidur dalam kehidupan yang tidak lebih baik dari khayalan orang sakit jiwa.

Perlu ada keseimbangan koheren antara sifat idealisme dan realistis agar menjadi manusia seutuhnya. Sikap realistis diperlukan untuk memahami dan menginsyafi kondisi riil di lapangan. Sedangkan sikap idealis diperlukan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kekurangan yang terjadi dalam realita. Tidak mungkin seorang manusia hanya mengikuti arus (realistis) selama-lamanya, atau hidup akan menjadi statis. Tidak mungkin juga seorang manusia hanya mengutamakan idealismenya semata dengan mengacuhkan realita kalau tidak ingin dikatakan seorang pemimpi.” — Dikutip dari artikel Ajie Adnan; Filsafat; Kompasiana.com

Ditulis pukul 02.36 dini hari,

– d

Advertisements