pisces own the sea

An e-diary: I tell people thru pictures and words.

Susu Murni Segar

“Sudah tahu tujuannya ke mana?”

Tanya seorang laki-laki yang berbadan sedikit gempal, tepat duduk di belakang setir mobil.

“Ke mana saja. Yang penting kita bisa segera turun dan merenggangkan badan.”

Jawab laki-laki yang lain, lebih kurus dan ceking, ia lemas. Wajahnya benar-benar seperti orang melarat.

Tidak ada sahutan dari orang yang duduk di kursi belakang, ia satu-satunya perempuan di sana. Sesaat kemudian, baru bicara.

“Bagaimana kalau minum yang hangat-hangat?”

Yang lain bergeming, belum sempat menanggapi.

“Misalnya susu-susuan?” Ia melanjutkan dengan bertanya.

Dijawab dengan kekeh geli, sedikit bergairah, dari dua laki-laki di depannya.

“Boleh. Di sini terkenal dengan susu murni segarnya. Biasanya memang buka jam segini.” Jawab laki-laki pengemudi. “Memang enak diminum tengah malam. Hujan begini pula.”

Laki-laki kurus di sebelahnya menyahut dengan lelucon lain, tidak menanggapi usulannya soal mampir ke susu murni segar. Tetapi sesungguhnya laki-laki itu manut saja, ia juga tidak punya ide lain. Tempat ini bukan teritori yang dikuasainya. Ia pegal, sedikit lapar juga.

“Tempatnya di sini, kok. Di jalan utama kota ini.” Lelaki pengemudi membelokan setirnya ke jalan yang lebih besar, lampu-lampu jalan jauh lebih terang. Memperlihatkan sisa-sisa jantung kota di pelupuk harinya yang mengantuk. Ketiga penghuni mobil itu pun ingin merengek mengantuk kepada semesta, tetapi perjalanan mereka masih panjang. Mereka tidak berniat akan bermalam di kota ini—terlalu melenakan, mereka meski waspada. Apa-apa yang menggoda, akan berakibat buruk ujungnya.

Kedua laki-laki mengobrol hal lain, menggunakan bahasa yang tidak dipahami oleh perempuan di belakang mereka. Meski sepatah-dua patah dipahaminya, ia tidak begitu peduli. Kedua laki-laki tidak juga tertarik untuk mengajak perempuan masuk ke dalam obrolan. Perempuan ini, yang disadari oleh mereka, memang cenderung sedikit bicara. Bukan pemalu, kata-kata yang tepat mungkin ia memang tidak peduli—bahkan terkesan dingin, kadang-kadang. Mereka sering membatin begitu, yang bikin mereka seringkali salah tingkah.

“Saya pesan susu jahe. Panas.” Lelaki sedikit gempal tersebut menyebutkan pesanan sambil mencomot sate paru-paru sapi di dekatnya, lalu duduk.

“Saya STMJ.” Laki-laki ceking menjulurkan jari telunjuknya ke udara.

Teman seperjalanan mereka, perempuan satu-satunya, nampak terkesima dengan mereka. Tanpa perlu melihat daftar menu, mereka sudah tahu apa yang akan dipesan. Seperti sudah kemari bertahun-tahun. Perempuan tersebut merasa seperti orang asing, ia memang belum pernah ke tempat seperti ini. Ia gagu mengucapkan menu yang akan ia pesan, karena tidak tahu bagaimana rasanya. Tentu saja!

“Eerr.. Saya mau SUPERMAN! Susu Putih Segar Manis! Panas!” Perempuan tersebut akhirnya menentukan pilihannya pada nama menu yang menurutnya menarik saja, dan rasanya aman untuk seleranya.

Kedua laki-laki mengobrol. Obrolan soal kampus—bagaimana hubungan asmara antara dosen dan mahasiswi itu, apa masih jalan? Coba bayangkan, seorang calon mahasiswa berprestasi, yang akan mewakili fakultasnya ke tingkat universitas, bersikap kasar dan tidak berpendidikan kepada sekuriti kampus? Kalian sudah lihat nilai semester ini, bagaimana, memang sedikit naik, tidak apalah yang penting tidak mengulang, ya kan? Di kampus akan diberlakukan kembali jam malam, konyol, apa dipikir akan ada teror seperti waktu itu? Hei! Saya lupa mengembalikan buku perpustakaan sejak semester awal, sialan, apa saya akan kena sanksi mahal?

Menarik untuk disimak teman perempuan mereka. Malah, banyak hal yang ingin ia bicarakan soal kampus juga. Soal topik-topik yang berganti dengan sangat cepat, bahkan mungkin lompat-lompat, tidak karuan oleh dua lelaki itu. Tapi ia memilih untuk menyimak, sesekali menimpali dengan, “Oh ya?” “Saya tahu itu. Pernah dengar.” “Apa lagi yang kau tahu?” “Hm.. menarik.”

Ia tidak begitu menyenangi obrolan yang tidak habis di satu topik dan dengan mudah berganti ke topik-topik yang lain–yang juga tidak dibahas sampai habis. Kepalanya seperti berputar. Sehingga ia berpaling dan menyesap supermannya.

“Bagaimana dengan kamu, putus hubungan paling sakit seperti apa yang pernah kamu rasakan?”

Laki-laki yang bertanya, tersenyum menggoda, memperlihatkan sedikit lesung pipit di tengah pipinya yang gempal. Yang ceking tersenyum juga, menggoda, dengan wajah antusias ke arah teman perempuan yang duduk di sebelahnya.

Oh, rupanya obrolan soal kampus sudah berpindah ke persoalan lain. “Ah.. Err..” Perempuan tersebut sedikit salah tingkah, kaget karena pertanyaan mendadak yang tidak diduga mengarah padanya. “Saya susah mengingatnya. Itu sudah lama.”

“Alah! Mana mungkin lupa. Yang kami tanyakan ini yang ‘paling sakit’ lho.” Seringai laki-laki gempal semakin lebar, semakin menggodanya.

Perempuan berpikir cepat. Sesungguhnya gambaran kejadian-kejadian yang menimpanya setahun ini langsung muncul pertama kali ketika pertanyaan tersebut dilontarkan kepadanya. Itu juga yang membuatnya jadi salah tingkah, karena bahkan dari perjalanan panjang mereka di dalam mobil, setengah dirinya berkelana ke dalam gambaran yang terpotong-potong tentang kejadian itu.

Ia baru saja akan membuka mulutnya, tetapi urung. Matanya mengawas ke kiri dan kanan, dua laki-laki tersebut masih menatapnya antuasias dengan mata menggoda. Menyebalkan.

“Sebentar, saya masih berpikir. Sulit juga, ya.”

Kedua laki-laki tersebut tertawa, sedikit menikmati kekacauan dalam diri perempuan tersebut oleh keingintahuan mereka.

Sungguh sulit, membicarakan hal yang bahkan tidak teman dekatnya tahu tentang ini. Mungkin ia pernah cerita, tetapi dalam versi yang ia kondisikan terhadap mental dan preferensi lawan bicaranya. Tidak dalam bentuk orisinilnya.

Cukup lama berpikir, merangkai kata dan cerita, akhirnya ia bicara dengan nada tenang. “Setahun yang lalu. Saya mengakhiri hubungan saya dengan orang yang hampir dua tahun saya pacari.”

Ia menarik nafas agak panjang, tetap tenang, dan menghembuskannya. Sebagai tanda ia akan bicara panjang-lebar, mungkin menjadi obrolan terpanjangnya selama ia berteman dengan kedua teman laki-lakinya ini.

“Saya bingung harus memulainya dari mana. Alasannya.. prosesnya.. kejadiannya.. Ah! Bagaimana, ya?”

“Saya putus karena dia, laki-laki yang saya pacari itu, memilih bersama perempuan lain yang sudah dikenalnya 4 tahun sebelumnya. Seorang teman lama.”

“Dia bilang, kesempatan untuk bisa dekat dengan perempuan itu adalah sekarang. Dan dia sangat menanti waktu seperti ini.”

“Tak lama, dia cari saya kembali. Dia bilang menyesal dan memohon saya kembali. Lalu saya kembali.”

“Beberapa bulan hubungan kami berjalan dengan baik. Dia sangat baik kepada saya. Sampai akhirnya saya tahu, sejak beberapa bulan itu dia nggak pernah pulang ke rumahnya. Dia pulang dan tinggal bersama perempuan itu, teman lamanya. Bersembunyi-sembunyi, agar saya tidak tahu.”

“Belakangan saya tahu mereka hampir memiliki seorang anak, tetapi gagal karena perempuan tersebut, pada suatu malam, terlalu banyak minum alkohol dan janin dalam rahimnya keguguran.”

“Saya tahu dari dia sendiri. Dia cerita. Sayangnya, dia nggak meminta maaf.”

“Tetapi saya memaafkannya.”

“Kami berbaikan kembali. Hubungan berjalan cukup baik, sampai kemudian.. dia diam-diam memiliki hubungan dengan seorang perempuan. Seorang teman lama, yang lain. Yang sudah dikenalnya 3 tahun sebelumnya.”

“Dalam ketidaktahuan saya, mereka sempat tinggal bersama. Perempuan itu curiga ia hamil, karena sudah lewat sebulan nggak ada tanda datang bulan.”

“Ternyata nggak. Nggak hamil. Hanya.. mungkin karena beban pikiran menganggu hormonnya. Entahlah.”

“Pacar saya—ah, dia—bercerita hal ini kepada saya. Dia juga bilang, dia menaruh harapan terhadap perempuan itu. Dia mencintai perempuan itu. Dia pun tidak mengejar saya, meminta maaf juga nggak.”

“Saya menganggap pernyataan jujur itu sebagai akhir dari hubungan kami.”

Kedua laki-laki yang di depan dan di sampingnya diam, mendengarkan baik-baik. Seringai mereka sudah terkulum rapat-rapat dalam bibir mereka. Yang gempal menatap ke arah perempuan di depannya, lurus—nanar; yang ceking hanya diam dengan mata mengarah ke gelasnya—pikirannya seolah loncat dari kepalanya dan pergi pada suatu malam ketika ia melihat kekasihnya selingkuh.

Perempuan tersebut sungguh tidak ingin merasa dikasihani, sungguh. Ia tidak khawatir ia akan menangis karena sesak di dadanya.

Ia lebih khawatir dengan dirinya yang tiba-tiba banyak bicara. Sedikit menakutkan baginya. Rasanya ia telah melewatkan hal-hal berharga dengan banyak bicara. Ia memusatkan perhatian tertuju padanya, ini tidak baik untuknya.

Sementara dua lelaki di dekatnya, ia menerka-nerka. Apa yang sedang dipikirkan oleh mereka sehingga begitu lama terdiam?

Mungkin mereka terheran-heran dengan jumlah kata yang keluar dari mulutnya bisa sebanyak ini. Mungkin akhirnya mereka tahu dibalik perangai yang terkesan dingin dan acuh, tersembunyi kisah yang menyedihkan. Mungkin mereka juga bersimpati terhadap apa yang terjadi padanya—dua kali dibohongi dengan kasus yang tidak beda jauh, dua perempuan dari masa lalu. Atau mungkin mereka sedikit lega, setidaknya mereka tahu sesial-sialnya dan sesakit-sakitnya cara putus mereka, ada orang yang lebih sial dan sakit dalam urusan putus cinta.

 

 

 

Advertisements

Menyoal Kemenangan lewat Sabung Ayam

Residensi tiga seniman di Cemeti Art House, Yogyakarta, telah berjalan dari bulan Maret 2017 dan akan melaksanakan pambukaan pada 23 Mei 2017 mendatang. Tiga seniman yang berasal dari Belanda, Selandia Baru, dan Indonesia (Bandung) dibebaskan untuk mengamati dan meneliti hal-hal yang mereka temukan selama tiga bulan di Yogyakarta.

Hal tersebut senada dengan program residensi seniman di Cemeti Art House, terlebih ketiga seniman berasal dari negara yang berbeda, dengan kompleksitas sosial-budaya yang pasti berbeda, sehingga dalam proses pembuatan karya tiga seniman fokus pada proyek masing-masing. Memang tidak tercipta satu tema bersama, namun dalam upaya penyeragaman, Yogyakarta menjadi studio bersama dalam mencari, mengamati, dan meneliti segala bentuk dinamika perkehidupannya.

Salah satu pergerakan yang mencuri perhatian Yosefa Aulia (26 tahun) atau biasa dipanggil Ocipa, seniman residensi Cemeti Art House asal Bandung, ialah sabung ayam yang masih berlangsung bebas di Yogyakarta. Sebelum sampai pada satu ide besar ini, Ocipa menerangkan bahwa proses yang dilakukannya tidak praktis. Mulanya ia banyak berkunjung dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan teater di Yogyakarta, seperti Teater Gandrik dan Teater Garasi, yang menjadi bentuk dari ketertarikannya pada gestur dan ruang. “Saya melihat bagaimana gestur orang Yogyakarta lebih ekspresif dibandingkan gestur orang-orang di Bandung. Akhirnya ngulik kegiatan teater, mulai dari latihan sampai hari pementasan. Melihat persiapan di backstage dan menonton pentas mereka,” kata Ocipa saat ditemui di Cemeti Art House (14/5).

A4

Yosefa Aulia dalam proses pengerjaan proyek ‘Smashing Cocks’ di Cemeti Art House, Yogyakarta (14/5).

Dalam pengamatannya, ia menyadari bahwa terdapat gestur-gestur dalam perilaku sehari-hari keluar secara tidak sadar dan mempengaruhi individu menempatkan diri di ruang-ruang tertentu. Ocipa berasumsi gestur merupakan jalan masuk menuju hal yang lebih besar, yaitu positioning system tiap individu dalam menentukan relasi kuasa antara individu lain di ruang-ruang tertentu. Untuk memudahkan riset, Ocipa membuat mind maping tentang gestur, ruang, dan individu dengan kontrol. Ia mencoba mengaitkan individu, gestur, dan ruang dengan kontrol, bahwa aspek kontrol berada diantara kesadaran penuh dan bawah alam sadar. Adanya gestur-gestur yang dapat tercipta dari bawah alam sadar dikarenakan individu secara alami melakukannya atau diluar kontrol individu tersebut. Posisi kontrol di bawah alam sadar membentuk gestur-gestur untuk melepaskan energi atau egonya. Katalis tersebut biasa dalam bentuk permainan. Selama ini pemainan dipercayai sebagai katalis atau pelepasan energi yang terbendung karena tuntutan rutinitas dan struktur sosial. “Saya berpikir keras permainan seperti apa yang akan mendorong pemain untuk mencurahkan energi, itensi, sekaligus menjadikan permainan itu sebagai perpanjangan ego menggapai satu tujuan. Dan tercetuslah sabung ayam.”

Ocipa mengamati pergerakan sabung ayam masih kental di dalam masyarakat Yogyakarta. Ia sampai pada satu pemahaman, bahwa sabung ayam telah menjadi bagian dari sistem ekonomi yang sangat maskulin dan menciptakan kompleksitas yang lebih besar. Manusia-manusia yang masuk dalam sistem ekonomi sabung ayam melakukan beragam upaya untuk unggul dan meraup laba. Permainan sabung ayam merupakan arena pertarungan antar lelaki, mengadu kekuatan dan pamer kejantanan, sehingga perempuan sangat sulit untuk masuk pada area ini. Para pemain sabung ayam berinventasi waktu dan uang untuk merawat ayam miliknya. Pula melakukan latihan atau sparing dengan ayam lainnya untuk mengasah dan menentukan strategi kemenangan, tentu saja penyelenggara sparing mengambil keuntungan dengan menyediakan jasa tempat. Ada pula peternak ayam, untuk melihat breeding unggul dilakukan beragam percobaan. Selain mereka, penjual obat-obatan untuk kesehatan maupun stamina ayam juga ikut mengais rezeki dalam sistem ekonomi sabung ayam. Belum lagi soal para petaruh, dalam posisi sabung ayam disebut pinggiran, mengeluarkan sejumlah uang untuk dipertaruhkan dalam arena pertarungan. “Saya berasumsi orang-orang ini sangat intens merawat ayamnya, dibandingkan merawat istri dan anaknya. Mereka bisa sangat kecewa luar biasa jika kalah, lebih kepada dirinya sendiri,” kata perempuan kelahiran Palembang ini sambil tersenyum kecil. “Hasil dari riset ini saya ciptakan sebuah analogi ‘Smashing Cocks’, yakni permainan dari bahan keramik dan dimainkan dengan remote control.”

A1

Mind maping yang dibuat oleh Yosefa Aulia dalam proses pengerjaan proyek Smashing Cocks (14/5).

Historis sabung ayam di pulau Jawa telah lama akrab di kalangan kerajaan Demak melalui cerita rakyat. Seperti cerita seorang pangeran bermain sabung ayam dan akhirnya bertemu dengan ayah kandung yang telah menelantarkan ibunya. Cerita rakyat lainnya adalah Cindelaras yang memiliki ayam sakti dan diundang oleh raja Jenggala, Raden Putra, untuk mengadu ayam. Taruhan berupa perjanjian, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kerajaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras. Pertarungan tersebut dimenangkan oleh ayam Cindelaras. Sabung ayam juga menjadi peristiwa politik pada masa kerajaan Singasari, atas terbunuhnya Prabu Anusapati saat menyaksikan sabung ayam. Kematian Anusapati berkaitan dengan cerita rakyat Ciung Wanara, bahwa keberuntungan dan perubahan nasib seseorang ditentukan oleh kalah menangnya ayam di arena sabung ayam, begitu pula yang terjadi pada nasib Anusapati. Tidak jauh berbeda dengan kondisi saat ini, aspek ekonomi, sosial, budaya, bahkan politik adalah aspek-aspek yang secara tidak sadar tersentuh oleh sabung ayam. Bahwasannya, setiap manusia beradu ego untuk mencapai posisi terkuat dan paling dihargai.

Sebelum hari pameran, Ocipa melakukan uji coba terlebih dahulu pada Smashing Cocks buatannya di Kamar Tokek—salah satu rangkaian dari residensi di Cemeti Art House untuk seniman berbagi referensi. Ia mengundang 10 orang untuk berpatisipasi, empat diantaranya menjadi pemain, lainnya berlakon sebagai penonton atau petaruh. Terdapat dua pemain laki-laki dan dua pemain perempuan. Hasil uji coba menunjukan hipotesanya terbukti. Orang-orang yang berinteraksi di dalamnya, laki-laki maupun perempuan, memiliki ekstensi untuk menghancurkan keramik milik lawan dan mencapai kemenangan. Seperti halnya dalam sabung ayam sungguhan. “Saya sedang menyempurnakan bentuk keramik, memperbaiki karakter, membuat rewards bagi pemenang, dan mengganti baterai remote control yang lebih tahan lama. Juga saya kepikiran untuk membuat gambling antar penonton, saya akan memberikan mereka chips. Jadi, saat ini saya sedang fokus penyempurnaan dan penambahan elemen-elemen itu.”

Ocipa membayangkan pada hari pameran, partisipan dapat merelevansikan kehidupan rill dengan analogi ‘Smashing Cocks’: bahwa terdapat positioning system di tengah kehidupan mereka. Antar manusia beradu ego, masing-masing memiliki ideologi yang dipegang teguh dan ingin dipertaruhkan dengan yang lain, guna menggapai posisi terkuat. Sistem ini bergerak sangat harsh, yang mana satu pihak maju maka lainnya mundur. Tidak ada negosiasi yang menciptakan hal-hal produktif dan kondusif untuk semua pihak. “Maka dari itu aku sedang mengembangkan bentuk pertanyaan, soal kemenangan maupun kekalahan, yang akan aku lemparkan kepada partisipan. Apa sih kemenangan itu?” ujarnya dengan suara yang mapan.

Ocipa bertekad bahwa proyeknya akan menggelitik alam bawah sadar partisipan tentang hal-hal di kehidupan sehari-hari, bahwa setiap individu berkutat pada ruang, gestur, dan kontrol dalam upaya perpanjangan ego. Pameran karya tiga seniman residensi Cemeti Art House, salah satunya ‘Smashing Cocks’ karya Yosefa Aulia, akan diselenggarakan pada 23 Mei 2017 di ruang pamer Cemeti Art House.

***

Tulisan ini akan dikembangkan kembali dalam tulisan lanjutan yang meliput pameran karya tiga seniman Cemeti Art House pada 23 Mei 2017. Khususnya berkaitan dengan ketertarikan penulis pada proyek ‘Smashing Cocks’ oleh Yosefa Aulia.

Untuk menambah wawasana pembaca mengenai sabung ayam di Yogyakarta dapat mengakses tulisan pada laman wargajogja.net terkait sabung ayam.

20

Tulisan ini sebetulnya ungkapan self-center, karena tujuan menghadirkan tulisan ini untuk menyambut kegemasan diri kembali menulis dan menyelamati diri atas sebuah pencapaian–bertahan hidup sampai umur 20 tahun! Hore!

Belakangan ini saya suka sekali menulis untuk teman-teman saya, terutama tulisan menyelamati hari kelahiran mereka. Tulisan yang tidak hanya berisikan ucapan selamat atas usia yang bertambah setahun–berkurangnya sisa hidup?– kepada mereka, tetapi juga paragraf yang menceritakan betapa sangat menggairahkan sekaligus menakutkan dunia setelah berumur 20 tahun.

Saya banyak belajar dari pengalaman hidup sebelum menginjak 20 tahun, terutama masa transisi dari umur belasan menuju 20-an. Katakan saja itu umur 18 dan 19 tahun. Di umur itu saya baru lulus sekolah menengah atas, melepas masa-masa memakai seragam, dan berangkat ke pulau Jawa untuk melanjutkan studi. Meninggalkan tanah kelahiran seperti bayi yang lepas dari ketiak ibunya. Ketiak ibu identik dengan dekapan hangat dan nyaman yang selalu ampuh menina-bobokan bayinya. Begitu pula dengan tanah kelahiran saya, telah menjadi tempat yang paling hangat, paling aman, dan paling nyaman di muka bumi. Meski pun saya selalu iri dengan tanah Jawa, bahwa orang-orang di sana selalu mendapatkan segala bentuk kemajuan, tetapi kemajuan tersebut tidak dengan mudah mengalahkan kenyamanan tempat saya dibesarkan. Mungkin bukan soal saya lahir di sana, tetapi soal bagaimana tanah tersebut membesarkan saya, mendidik saya dengan kearifan lokalnya, sehingga sangat lekat dan berhasil memuat definisi ‘tanah kelahiran’ yang sesungguhnya.

Persoalan demikian pasti dirasakan oleh siapapun yang pergi merantau, jauh meninggalkan tanah kelahirannya. Hal lainnya yang dirasakan saat umur 18 atau 19, ialah soal bagaimana menjawab pertanyaan dari kehidupan lama dan bagaimana merespon kehidupan baru. Menyoal kehidupan lama sangat perlu, sebagai cara merefleksi diri atas apa saja yang sudah dilakukan selama ini. Kehidupan lama ialah kehidupan yang pernah ataupun masih dilakukan. Banyak hal dari kehidupan lama yang saya bawa pada jenjang kehidupan baru. Hal paling signifikan dalam masa transisi saya, ialah soal percintaan. Lagi-lagi berkutat pada satu hubungan yang sudah lama usang. Mempertahankan prinsip-prinsip lama yang berusaha dimaknai pada kehidupan baru dengan pikiran, yang mungkin, lebih mapan. Dan seringkali berujung bentrok dan sukar dibenahi. Tidak mengelak. Masa perkuliahan akan membawa siapapun pada hal-hal yang lebih rasional. Dan cinta tidak termasuk di dalamnya.

Dan soal kehidupan baru yang saya bicarakan di sini adalah kehidupan di tanah rantauan, dengan segala kelimpahan pengetahuan dan tantangan, serta kenaifan yang sangat menggiurkan.

Persoalan-persoalan demikian sering disebut dengan krisis umur, di mana terdapat umur-umur yang menjadi titik balik dari kehidupan setiap individu. Atau pada umur tertentu menjadi umur yang paling penting dan menentukan bagi dirinya. Yusuf, di film 3 Hari Untuk Selamanya, bilang, “Di umur 27 lo bakal mengambil keputusan yang akan mengubah jalan hidup lo.” Bahkan terdapat istilah Club 27 berisikan orang-orang keren yang mati muda di umur 27 tahun, sebut saja dua diantaranya Albert Camus dan Soe Hok Gie (yang tidak disebutkan oleh Yusuf di film). Dan Club 27 bergeser menjadi acuan bagi beberapa kalangan untuk mati muda dan keren di umur 27 tahun.

Sampai di sini, saya hanya bisa merumuskan satu jenjang umur yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Umur 19 tahun, di tahun 2016.

Saya merasa hidup sepanjang tahun 2016 sangat rusuh, laiknya dihajar habis-habisan dari segala penjuru arah. Sebagai individu yang tunggal, saya memang harus menghadapinya sendiri. Bahwa segala resiko dan konsekuensi ditanggung oleh masing-masing individu. Jika saya harus menerima konsekuensi berat untuk melewatinya, maka saya babak belur sejadi-jadinya.

Tetapi selamat, saya genap 20 tahun hari ini. Saya berhasil mencapai pada jenjang selanjutnya, sekaligus berhasil mencegah diri untuk tidak mengakhiri hidup sebelum berumur 20 tahun. Sedikit banyak di tahun 2016 menjadi bahan renungan saya, tentang apa yang telah, sedang, dan akan saya lewati ke depan untuk bertahan hidup. Setidaknya membuat saya tetap waras, tetap memiliki akal, dan rasionalitas yang wajar. Mungkin itu pula yang membuat saya tidak betah berada di tempat umum, lebih banyak melamun (berpikir), dan lebih sering berpergian seorang diri. Bukan sesuatu yang buruk, saya rasa, karena sekarang hal-hal tersebut berubah menjadi cara. Cara-cara yang membuat saya nyaman dengan diri saya sendiri. Cara-cara yang mengubah perspektif saya terhadap masa depan, bahwa setidaknya masih ada hal-hal indah di dunia yang nestapa ini.

Saya berterima kasih atas siapa saja yang hadir dan turut menyertai kebahagiaan saya di umur 20 tahun. Mereka menjadi saksi yang melihat saya bahagia setelah hampir dua tahun masa kelam dalam jenjang kehidupan saya.

Sampai bertemu tahun depan, dengan lebih banyak kebahagiaan dan keindahan bersama saya.

***

Menyudahi post ini, saya ingin memamerkan sedikit kebahagiaan saya di tanggal 24 Februari 2017 dengan foto-foto yang sudah saya touch up sekenanya. Hari itu saya ‘diculik’ ke MesaStila, Losari, Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Kebetulan hari itu mendung dan sorenya hujan lebat. Hujan lekat kaitannya dengan berkah, maka saya percayai hujan di hari ulang tahun membawa kebaikan kepada saya sepanjang tahun ini.

Foto diambil oleh Diatami Muftiarini (24/2).

00:10

Baru lewat beberapa menit memasuki tanggal 24 Februari.

Dari awal bulan, saya sudah berfirasat Februari bukan lagi Februari seindah yang pernah saya bayangkan. Februari menjadi bulan yang biasa, tidak berbeda dengan bulan yang lain. Tanggal 24 bukan lagi tanggal yang mengingatkan saya akan ada hal-hal baik yang terjadi, ia hanya tanggal biasa dan bukan apa-apa.

24 Februari yang nestapa.

00:15

Baru lewat beberapa menit lagi, dan hadiah pertama yang saya dapati adalah keadaan sendiri dan sepi. Mengantuk, namun menyimpan harapan saya memilikinya malam ini. Tapi tidak mungkin. Di satu sisi, saya berujar bahwa saya pantas mendapatkan ini semua. Saya memang pantas untuk akhirnya merasa sepi dan ditinggalkan.

01:12

Diam-diam saya menangis dalam kesunyian 24 Februari.

You once asked me, “Is it true or false the scariest thing in pisces’ life is being broken-heart?”

“The scariest thing in pisces’ life is losing her best people in life. She pretend to lives in a beautiful world surrounded by her closest people. She is a selective kind of person who lives in small circle. So people who allowed attend in her circle which she has selected by personally. In short, you asked is it true or false, the answer is exactly true.

She is scare of the day you leave her. And then she has to live her life in piece of herself.”

 

 

03.08: Nightmare

Malam itu tidak tidur lagi. Sudah malam yang kesekian–tidak terhitung.

Terakhir tidur malam, saya mimpi buruk. Saya terbangun dengan air mata sudah membasahi pipi dan bantal. Setengah sadar, saya merasa mimpi itu begitu nyata–benar terjadi dalam kehidupan saya. Perasaan sesak di dada, emosi yang meluap tidak tertahankan, penyesalan; adalah gambaran sakit yang begitu pedih. Jelas saya merasakan bagaimana kehilangan orang yang benar-benar penting dalam hidup saya. Sebegitu penting sampai saya merasa kehidupan yang hidup selesai sudah. Saya sudah terbangun, mata saya terbuka, namun masih setengah sadar. Mengerjap-ngerjap–seolah mengusir bayangan mimpi buruk itu. Baru beberapa detik kemudian saya dapat bersyukur bahwa saya memang benar bermimpi.

Malam itu dia bertanya, “Apa untungnya bagi saya tetap berhubungan dengan kamu?” Saya tidak menjawab, “Apa yang membuat kamu merasa untung saat ini?” Sebenarnya saya tidak butuh jawabannya, saya tahu apa yang semestinya dia jawab.

Nggak berhubungan lagi dengan kamu.”

Saya mendengus. Benar kan, dia akan menjawab seperti itu. Pertanyaan yang malah makin menyudutkan saya. Mungkin pertanyaan itu adalah desakan perasaan atas harapan kecil mendengar jawaban yang lebih baik.

Bisa berada di dekatmu.

Misalnya.

Saya masih menyimpan harapan tersebut hingga saya bertanya lagi, “Intinya nggak ada lagi ‘saya’ dalam kehidupanmu?”

Bisa dikatakan seperti itu.”

Dia menolak saya.

Kamu bahagia?”

Nggak juga. Setidaknya hal yang membuat kesal dan makan hati berkurang di kehidupan saya.”

Dia tidak akan benar-benar menolak. Saya tahu.

“Tapi dengan begitu bisa membuat saya sedikit lebih bahagia.”

Kali ini saya menangis. Mengutuk diri.

Saya menahan teriakan di dalam bantal. Saya ingin menangis sekerasnya.

“Iya. Memang nggak ada hal yang baik ataupun menguntungkan dari saya. Such a mess. Hanya bisa membuat orang-orang kesal.

Tenang, bukan hanya kamu yang merasa seperti itu. Saya sendiri juga. Saya benci dengan diri saya saat ini.”

Sudahlah. Tidak ada harapan. Dia bahagia tanpa saya. Saya hanyalah pembawa hal buruk dalam kehidupannya. Saya tidak baik. Saya bukan orang yang bisa membuatnya bahagia. Saya adalah neraka duniawinya.

“Okay. Have a nice monday, Tami! I wish you will be a better girl than before, especially for your next man.”

Jangan menghibur. There is no next man, since there is no me in your heart.

 

 

Malam itu saya bermimpi buruk dengan mata terjaga. Ini mimpi yang benar-benar buruk.

 

I’ll Be

Sam: “Any question?”

Austin: “Do you believe in love at the first sight?”

Sam: “I’ll let you know”

Austin: “I’ve seen you before.”

Sam: “Yes.”

Austin: “How could I have seen you before and not know who you are now?”

Sam: “Maybe you were looking but you weren’t really seeing.”

The strands in your eyes that color them wonderful. Stop me and steal my breath. And emeralds from mountains thrust towards the sky. Never revealing their depth. Tell me that we belong together. Dress it up with the trappings of love. I’ll be captivated, I’ll hang from your lips. Instead of the gallows of heartache that hang from above.

I’ll be your cryin’ shoulder. I’ll be love’s suicide. I’ll be better when I’m older. I’ll be the greatest fan of your life.

I’ll Be, Edwin McCain.

This post related to
Movies: Powerful Romantic Scenes 

A Cinderella Story

Bagiku, saat Sam berdiri di atas tangga lalu turun ke ball room adalah bagian paling emosional di film ini. Sam, yang diperankan oleh Hilary Duff, benar-benar terlihat seperti selayaknya putri sungguhan di dongeng Cinderella yang sering aku baca di masa kecilku. Tidak hanya film ini, banyak film yang mengangkat kisah Cinderella ke dalam dunia nyata, tapi A Cinderella Story adalah yang terbaik sepanjang masa. And this part just gonna be my favorite scene, ever.

Just another day, started out like any other. Just another girl, who took my breath away. Then she turned around, she took me down and. Just another day then I had the best day of my life..

Best Day of My Life, Robert D.

 

This post related to
Movies: Powerful Romantic Scenes 

Red

Loving him is like trying to change your mind once you’re already flying through the free fall. Like the colors in autumn, so bright just before they lose it all. Losing him was blue like I’d never known. Missing him was dark grey all alone. Forgetting him was like trying to know somebody you never met

But loving him was red,
touching him was like realizing all you ever wanted was right there in front of you..

Memorizing him was as easy as knowing all the words to your old favorite song. Fighting with him was like trying to solve a crossword and realizing there’s no right answer. Regretting him was like wishing you never found out that love could be that strong. Losing him was blue like I’d never known. Missing him was dark grey all alone. Forgetting him was like trying to know somebody you never met

But loving him was red,

Remembering him comes in flashbacks and echoes. Tell myself it’s time now, gotta let go. But moving on from him is impossible. When I still see it all in my head.

Red, Taylor Swift.

image1 (5)It was a happy day on the beach. Sunset and also you beside me. Now I am trying to get back this smile again.

When you love someone

When you love someone

Just be brave to say that you want her to be with you

When you hold your love

Don’t ever let it go

Or you will loose your chance

To make your dreams come true

 

When you love someone, Endah N Rhesa