pisces own the sea

An e-diary: I tell people thru pictures and words.

Menyoal Kemenangan lewat Sabung Ayam

Residensi tiga seniman di Cemeti Art House, Yogyakarta, telah berjalan dari bulan Maret 2017 dan akan melaksanakan pambukaan pada 23 Mei 2017 mendatang. Tiga seniman yang berasal dari Belanda, Selandia Baru, dan Indonesia (Bandung) dibebaskan untuk mengamati dan meneliti hal-hal yang mereka temukan selama tiga bulan di Yogyakarta.

Hal tersebut senada dengan program residensi seniman di Cemeti Art House, terlebih ketiga seniman berasal dari negara yang berbeda, dengan kompleksitas sosial-budaya yang pasti berbeda, sehingga dalam proses pembuatan karya tiga seniman fokus pada proyek masing-masing. Memang tidak tercipta satu tema bersama, namun dalam upaya penyeragaman, Yogyakarta menjadi studio bersama dalam mencari, mengamati, dan meneliti segala bentuk dinamika perkehidupannya.

Salah satu pergerakan yang mencuri perhatian Yosefa Aulia (26 tahun) atau biasa dipanggil Ocipa, seniman residensi Cemeti Art House asal Bandung, ialah sabung ayam yang masih berlangsung bebas di Yogyakarta. Sebelum sampai pada satu ide besar ini, Ocipa menerangkan bahwa proses yang dilakukannya tidak praktis. Mulanya ia banyak berkunjung dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan teater di Yogyakarta, seperti Teater Gandrik dan Teater Garasi, yang menjadi bentuk dari ketertarikannya pada gestur dan ruang. “Saya melihat bagaimana gestur orang Yogyakarta lebih ekspresif dibandingkan gestur orang-orang di Bandung. Akhirnya ngulik kegiatan teater, mulai dari latihan sampai hari pementasan. Melihat persiapan di backstage dan menonton pentas mereka,” kata Ocipa saat ditemui di Cemeti Art House (14/5).

A4

Yosefa Aulia dalam proses pengerjaan proyek ‘Smashing Cocks’ di Cemeti Art House, Yogyakarta (14/5).

Dalam pengamatannya, ia menyadari bahwa terdapat gestur-gestur dalam perilaku sehari-hari keluar secara tidak sadar dan mempengaruhi individu menempatkan diri di ruang-ruang tertentu. Ocipa berasumsi gestur merupakan jalan masuk menuju hal yang lebih besar, yaitu positioning system tiap individu dalam menentukan relasi kuasa antara individu lain di ruang-ruang tertentu. Untuk memudahkan riset, Ocipa membuat mind maping tentang gestur, ruang, dan individu dengan kontrol. Ia mencoba mengaitkan individu, gestur, dan ruang dengan kontrol, bahwa aspek kontrol berada diantara kesadaran penuh dan bawah alam sadar. Adanya gestur-gestur yang dapat tercipta dari bawah alam sadar dikarenakan individu secara alami melakukannya atau diluar kontrol individu tersebut. Posisi kontrol di bawah alam sadar membentuk gestur-gestur untuk melepaskan energi atau egonya. Katalis tersebut biasa dalam bentuk permainan. Selama ini pemainan dipercayai sebagai katalis atau pelepasan energi yang terbendung karena tuntutan rutinitas dan struktur sosial. “Saya berpikir keras permainan seperti apa yang akan mendorong pemain untuk mencurahkan energi, itensi, sekaligus menjadikan permainan itu sebagai perpanjangan ego menggapai satu tujuan. Dan tercetuslah sabung ayam.”

Ocipa mengamati pergerakan sabung ayam masih kental di dalam masyarakat Yogyakarta. Ia sampai pada satu pemahaman, bahwa sabung ayam telah menjadi bagian dari sistem ekonomi yang sangat maskulin dan menciptakan kompleksitas yang lebih besar. Manusia-manusia yang masuk dalam sistem ekonomi sabung ayam melakukan beragam upaya untuk unggul dan meraup laba. Permainan sabung ayam merupakan arena pertarungan antar lelaki, mengadu kekuatan dan pamer kejantanan, sehingga perempuan sangat sulit untuk masuk pada area ini. Para pemain sabung ayam berinventasi waktu dan uang untuk merawat ayam miliknya. Pula melakukan latihan atau sparing dengan ayam lainnya untuk mengasah dan menentukan strategi kemenangan, tentu saja penyelenggara sparing mengambil keuntungan dengan menyediakan jasa tempat. Ada pula peternak ayam, untuk melihat breeding unggul dilakukan beragam percobaan. Selain mereka, penjual obat-obatan untuk kesehatan maupun stamina ayam juga ikut mengais rezeki dalam sistem ekonomi sabung ayam. Belum lagi soal para petaruh, dalam posisi sabung ayam disebut pinggiran, mengeluarkan sejumlah uang untuk dipertaruhkan dalam arena pertarungan. “Saya berasumsi orang-orang ini sangat intens merawat ayamnya, dibandingkan merawat istri dan anaknya. Mereka bisa sangat kecewa luar biasa jika kalah, lebih kepada dirinya sendiri,” kata perempuan kelahiran Palembang ini sambil tersenyum kecil. “Hasil dari riset ini saya ciptakan sebuah analogi ‘Smashing Cocks’, yakni permainan dari bahan keramik dan dimainkan dengan remote control.”

A1

Mind maping yang dibuat oleh Yosefa Aulia dalam proses pengerjaan proyek Smashing Cocks (14/5).

Historis sabung ayam di pulau Jawa telah lama akrab di kalangan kerajaan Demak melalui cerita rakyat. Seperti cerita seorang pangeran bermain sabung ayam dan akhirnya bertemu dengan ayah kandung yang telah menelantarkan ibunya. Cerita rakyat lainnya adalah Cindelaras yang memiliki ayam sakti dan diundang oleh raja Jenggala, Raden Putra, untuk mengadu ayam. Taruhan berupa perjanjian, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kerajaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras. Pertarungan tersebut dimenangkan oleh ayam Cindelaras. Sabung ayam juga menjadi peristiwa politik pada masa kerajaan Singasari, atas terbunuhnya Prabu Anusapati saat menyaksikan sabung ayam. Kematian Anusapati berkaitan dengan cerita rakyat Ciung Wanara, bahwa keberuntungan dan perubahan nasib seseorang ditentukan oleh kalah menangnya ayam di arena sabung ayam, begitu pula yang terjadi pada nasib Anusapati. Tidak jauh berbeda dengan kondisi saat ini, aspek ekonomi, sosial, budaya, bahkan politik adalah aspek-aspek yang secara tidak sadar tersentuh oleh sabung ayam. Bahwasannya, setiap manusia beradu ego untuk mencapai posisi terkuat dan paling dihargai.

Sebelum hari pameran, Ocipa melakukan uji coba terlebih dahulu pada Smashing Cocks buatannya di Kamar Tokek—salah satu rangkaian dari residensi di Cemeti Art House untuk seniman berbagi referensi. Ia mengundang 10 orang untuk berpatisipasi, empat diantaranya menjadi pemain, lainnya berlakon sebagai penonton atau petaruh. Terdapat dua pemain laki-laki dan dua pemain perempuan. Hasil uji coba menunjukan hipotesanya terbukti. Orang-orang yang berinteraksi di dalamnya, laki-laki maupun perempuan, memiliki ekstensi untuk menghancurkan keramik milik lawan dan mencapai kemenangan. Seperti halnya dalam sabung ayam sungguhan. “Saya sedang menyempurnakan bentuk keramik, memperbaiki karakter, membuat rewards bagi pemenang, dan mengganti baterai remote control yang lebih tahan lama. Juga saya kepikiran untuk membuat gambling antar penonton, saya akan memberikan mereka chips. Jadi, saat ini saya sedang fokus penyempurnaan dan penambahan elemen-elemen itu.”

Ocipa membayangkan pada hari pameran, partisipan dapat merelevansikan kehidupan rill dengan analogi ‘Smashing Cocks’: bahwa terdapat positioning system di tengah kehidupan mereka. Antar manusia beradu ego, masing-masing memiliki ideologi yang dipegang teguh dan ingin dipertaruhkan dengan yang lain, guna menggapai posisi terkuat. Sistem ini bergerak sangat harsh, yang mana satu pihak maju maka lainnya mundur. Tidak ada negosiasi yang menciptakan hal-hal produktif dan kondusif untuk semua pihak. “Maka dari itu aku sedang mengembangkan bentuk pertanyaan, soal kemenangan maupun kekalahan, yang akan aku lemparkan kepada partisipan. Apa sih kemenangan itu?” ujarnya dengan suara yang mapan.

Ocipa bertekad bahwa proyeknya akan menggelitik alam bawah sadar partisipan tentang hal-hal di kehidupan sehari-hari, bahwa setiap individu berkutat pada ruang, gestur, dan kontrol dalam upaya perpanjangan ego. Pameran karya tiga seniman residensi Cemeti Art House, salah satunya ‘Smashing Cocks’ karya Yosefa Aulia, akan diselenggarakan pada 23 Mei 2017 di ruang pamer Cemeti Art House.

***

Tulisan ini akan dikembangkan kembali dalam tulisan lanjutan yang meliput pameran karya tiga seniman Cemeti Art House pada 23 Mei 2017. Khususnya berkaitan dengan ketertarikan penulis pada proyek ‘Smashing Cocks’ oleh Yosefa Aulia.

Untuk menambah wawasana pembaca mengenai sabung ayam di Yogyakarta dapat mengakses tulisan pada laman wargajogja.net terkait sabung ayam.

Advertisements

20

Tulisan ini sebetulnya ungkapan self-center, karena tujuan menghadirkan tulisan ini untuk menyambut kegemasan diri kembali menulis dan menyelamati diri atas sebuah pencapaian–bertahan hidup sampai umur 20 tahun! Hore!

Belakangan ini saya suka sekali menulis untuk teman-teman saya, terutama tulisan menyelamati hari kelahiran mereka. Tulisan yang tidak hanya berisikan ucapan selamat atas usia yang bertambah setahun–berkurangnya sisa hidup?– kepada mereka, tetapi juga paragraf yang menceritakan betapa sangat menggairahkan sekaligus menakutkan dunia setelah berumur 20 tahun.

Saya banyak belajar dari pengalaman hidup sebelum menginjak 20 tahun, terutama masa transisi dari umur belasan menuju 20-an. Katakan saja itu umur 18 dan 19 tahun. Di umur itu saya baru lulus sekolah menengah atas, melepas masa-masa memakai seragam, dan berangkat ke pulau Jawa untuk melanjutkan studi. Meninggalkan tanah kelahiran seperti bayi yang lepas dari ketiak ibunya. Ketiak ibu identik dengan dekapan hangat dan nyaman yang selalu ampuh menina-bobokan bayinya. Begitu pula dengan tanah kelahiran saya, telah menjadi tempat yang paling hangat, paling aman, dan paling nyaman di muka bumi. Meski pun saya selalu iri dengan tanah Jawa, bahwa orang-orang di sana selalu mendapatkan segala bentuk kemajuan, tetapi kemajuan tersebut tidak dengan mudah mengalahkan kenyamanan tempat saya dibesarkan. Mungkin bukan soal saya lahir di sana, tetapi soal bagaimana tanah tersebut membesarkan saya, mendidik saya dengan kearifan lokalnya, sehingga sangat lekat dan berhasil memuat definisi ‘tanah kelahiran’ yang sesungguhnya.

Persoalan demikian pasti dirasakan oleh siapapun yang pergi merantau, jauh meninggalkan tanah kelahirannya. Hal lainnya yang dirasakan saat umur 18 atau 19, ialah soal bagaimana menjawab pertanyaan dari kehidupan lama dan bagaimana merespon kehidupan baru. Menyoal kehidupan lama sangat perlu, sebagai cara merefleksi diri atas apa saja yang sudah dilakukan selama ini. Kehidupan lama ialah kehidupan yang pernah ataupun masih dilakukan. Banyak hal dari kehidupan lama yang saya bawa pada jenjang kehidupan baru. Hal paling signifikan dalam masa transisi saya, ialah soal percintaan. Lagi-lagi berkutat pada satu hubungan yang sudah lama usang. Mempertahankan prinsip-prinsip lama yang berusaha dimaknai pada kehidupan baru dengan pikiran, yang mungkin, lebih mapan. Dan seringkali berujung bentrok dan sukar dibenahi. Tidak mengelak. Masa perkuliahan akan membawa siapapun pada hal-hal yang lebih rasional. Dan cinta tidak termasuk di dalamnya.

Dan soal kehidupan baru yang saya bicarakan di sini adalah kehidupan di tanah rantauan, dengan segala kelimpahan pengetahuan dan tantangan, serta kenaifan yang sangat menggiurkan.

Persoalan-persoalan demikian sering disebut dengan krisis umur, di mana terdapat umur-umur yang menjadi titik balik dari kehidupan setiap individu. Atau pada umur tertentu menjadi umur yang paling penting dan menentukan bagi dirinya. Yusuf, di film 3 Hari Untuk Selamanya, bilang, “Di umur 27 lo bakal mengambil keputusan yang akan mengubah jalan hidup lo.” Bahkan terdapat istilah Club 27 berisikan orang-orang keren yang mati muda di umur 27 tahun, sebut saja dua diantaranya Albert Camus dan Soe Hok Gie (yang tidak disebutkan oleh Yusuf di film). Dan Club 27 bergeser menjadi acuan bagi beberapa kalangan untuk mati muda dan keren di umur 27 tahun.

Sampai di sini, saya hanya bisa merumuskan satu jenjang umur yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Umur 19 tahun, di tahun 2016.

Saya merasa hidup sepanjang tahun 2016 sangat rusuh, laiknya dihajar habis-habisan dari segala penjuru arah. Sebagai individu yang tunggal, saya memang harus menghadapinya sendiri. Bahwa segala resiko dan konsekuensi ditanggung oleh masing-masing individu. Jika saya harus menerima konsekuensi berat untuk melewatinya, maka saya babak belur sejadi-jadinya.

Tetapi selamat, saya genap 20 tahun hari ini. Saya berhasil mencapai pada jenjang selanjutnya, sekaligus berhasil mencegah diri untuk tidak mengakhiri hidup sebelum berumur 20 tahun. Sedikit banyak di tahun 2016 menjadi bahan renungan saya, tentang apa yang telah, sedang, dan akan saya lewati ke depan untuk bertahan hidup. Setidaknya membuat saya tetap waras, tetap memiliki akal, dan rasionalitas yang wajar. Mungkin itu pula yang membuat saya tidak betah berada di tempat umum, lebih banyak melamun (berpikir), dan lebih sering berpergian seorang diri. Bukan sesuatu yang buruk, saya rasa, karena sekarang hal-hal tersebut berubah menjadi cara. Cara-cara yang membuat saya nyaman dengan diri saya sendiri. Cara-cara yang mengubah perspektif saya terhadap masa depan, bahwa setidaknya masih ada hal-hal indah di dunia yang nestapa ini.

Saya berterima kasih atas siapa saja yang hadir dan turut menyertai kebahagiaan saya di umur 20 tahun. Mereka menjadi saksi yang melihat saya bahagia setelah hampir dua tahun masa kelam dalam jenjang kehidupan saya.

Sampai bertemu tahun depan, dengan lebih banyak kebahagiaan dan keindahan bersama saya.

***

Menyudahi post ini, saya ingin memamerkan sedikit kebahagiaan saya di tanggal 24 Februari 2017 dengan foto-foto yang sudah saya touch up sekenanya. Hari itu saya ‘diculik’ ke MesaStila, Losari, Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Kebetulan hari itu mendung dan sorenya hujan lebat. Hujan lekat kaitannya dengan berkah, maka saya percayai hujan di hari ulang tahun membawa kebaikan kepada saya sepanjang tahun ini.

Foto diambil oleh Diatami Muftiarini (24/2).

00:10

Baru lewat beberapa menit memasuki tanggal 24 Februari.

Dari awal bulan, saya sudah berfirasat Februari bukan lagi Februari seindah yang pernah saya bayangkan. Februari menjadi bulan yang biasa, tidak berbeda dengan bulan yang lain. Tanggal 24 bukan lagi tanggal yang mengingatkan saya akan ada hal-hal baik yang terjadi, ia hanya tanggal biasa dan bukan apa-apa.

24 Februari yang nestapa.

00:15

Baru lewat beberapa menit lagi, dan hadiah pertama yang saya dapati adalah keadaan sendiri dan sepi. Mengantuk, namun menyimpan harapan saya memilikinya malam ini. Tapi tidak mungkin. Di satu sisi, saya berujar bahwa saya pantas mendapatkan ini semua. Saya memang pantas untuk akhirnya merasa sepi dan ditinggalkan.

01:12

Diam-diam saya menangis dalam kesunyian 24 Februari.

You once asked me, “Is it true or false the scariest thing in pisces’ life is being broken-heart?”

“The scariest thing in pisces’ life is losing her best people in life. She pretend to lives in a beautiful world surrounded by her closest people. She is a selective kind of person who lives in small circle. So people who allowed attend in her circle which she has selected by personally. In short, you asked is it true or false, the answer is exactly true.

She is scare of the day you leave her. And then she has to live her life in piece of herself.”

 

 

03.08: Nightmare

Malam itu tidak tidur lagi. Sudah malam yang kesekian–tidak terhitung.

Terakhir tidur malam, saya mimpi buruk. Saya terbangun dengan air mata sudah membasahi pipi dan bantal. Setengah sadar, saya merasa mimpi itu begitu nyata–benar terjadi dalam kehidupan saya. Perasaan sesak di dada, emosi yang meluap tidak tertahankan, penyesalan; adalah gambaran sakit yang begitu pedih. Jelas saya merasakan bagaimana kehilangan orang yang benar-benar penting dalam hidup saya. Sebegitu penting sampai saya merasa kehidupan yang hidup selesai sudah. Saya sudah terbangun, mata saya terbuka, namun masih setengah sadar. Mengerjap-ngerjap–seolah mengusir bayangan mimpi buruk itu. Baru beberapa detik kemudian saya dapat bersyukur bahwa saya memang benar bermimpi.

Malam itu dia bertanya, “Apa untungnya bagi saya tetap berhubungan dengan kamu?” Saya tidak menjawab, “Apa yang membuat kamu merasa untung saat ini?” Sebenarnya saya tidak butuh jawabannya, saya tahu apa yang semestinya dia jawab.

Nggak berhubungan lagi dengan kamu.”

Saya mendengus. Benar kan, dia akan menjawab seperti itu. Pertanyaan yang malah makin menyudutkan saya. Mungkin pertanyaan itu adalah desakan perasaan atas harapan kecil mendengar jawaban yang lebih baik.

Bisa berada di dekatmu.

Misalnya.

Saya masih menyimpan harapan tersebut hingga saya bertanya lagi, “Intinya nggak ada lagi ‘saya’ dalam kehidupanmu?”

Bisa dikatakan seperti itu.”

Dia menolak saya.

Kamu bahagia?”

Nggak juga. Setidaknya hal yang membuat kesal dan makan hati berkurang di kehidupan saya.”

Dia tidak akan benar-benar menolak. Saya tahu.

“Tapi dengan begitu bisa membuat saya sedikit lebih bahagia.”

Kali ini saya menangis. Mengutuk diri.

Saya menahan teriakan di dalam bantal. Saya ingin menangis sekerasnya.

“Iya. Memang nggak ada hal yang baik ataupun menguntungkan dari saya. Such a mess. Hanya bisa membuat orang-orang kesal.

Tenang, bukan hanya kamu yang merasa seperti itu. Saya sendiri juga. Saya benci dengan diri saya saat ini.”

Sudahlah. Tidak ada harapan. Dia bahagia tanpa saya. Saya hanyalah pembawa hal buruk dalam kehidupannya. Saya tidak baik. Saya bukan orang yang bisa membuatnya bahagia. Saya adalah neraka duniawinya.

“Okay. Have a nice monday, Tami! I wish you will be a better girl than before, especially for your next man.”

Jangan menghibur. There is no next man, since there is no me in your heart.

 

 

Malam itu saya bermimpi buruk dengan mata terjaga. Ini mimpi yang benar-benar buruk.

 

I’ll Be

Sam: “Any question?”

Austin: “Do you believe in love at the first sight?”

Sam: “I’ll let you know”

Austin: “I’ve seen you before.”

Sam: “Yes.”

Austin: “How could I have seen you before and not know who you are now?”

Sam: “Maybe you were looking but you weren’t really seeing.”

The strands in your eyes that color them wonderful. Stop me and steal my breath. And emeralds from mountains thrust towards the sky. Never revealing their depth. Tell me that we belong together. Dress it up with the trappings of love. I’ll be captivated, I’ll hang from your lips. Instead of the gallows of heartache that hang from above.

I’ll be your cryin’ shoulder. I’ll be love’s suicide. I’ll be better when I’m older. I’ll be the greatest fan of your life.

I’ll Be, Edwin McCain.

This post related to
Movies: Powerful Romantic Scenes 

A Cinderella Story

Bagiku, saat Sam berdiri di atas tangga lalu turun ke ball room adalah bagian paling emosional di film ini. Sam, yang diperankan oleh Hilary Duff, benar-benar terlihat seperti selayaknya putri sungguhan di dongeng Cinderella yang sering aku baca di masa kecilku. Tidak hanya film ini, banyak film yang mengangkat kisah Cinderella ke dalam dunia nyata, tapi A Cinderella Story adalah yang terbaik sepanjang masa. And this part just gonna be my favorite scene, ever.

Just another day, started out like any other. Just another girl, who took my breath away. Then she turned around, she took me down and. Just another day then I had the best day of my life..

Best Day of My Life, Robert D.

 

This post related to
Movies: Powerful Romantic Scenes 

Red

Loving him is like trying to change your mind once you’re already flying through the free fall. Like the colors in autumn, so bright just before they lose it all. Losing him was blue like I’d never known. Missing him was dark grey all alone. Forgetting him was like trying to know somebody you never met

But loving him was red,
touching him was like realizing all you ever wanted was right there in front of you..

Memorizing him was as easy as knowing all the words to your old favorite song. Fighting with him was like trying to solve a crossword and realizing there’s no right answer. Regretting him was like wishing you never found out that love could be that strong. Losing him was blue like I’d never known. Missing him was dark grey all alone. Forgetting him was like trying to know somebody you never met

But loving him was red,

Remembering him comes in flashbacks and echoes. Tell myself it’s time now, gotta let go. But moving on from him is impossible. When I still see it all in my head.

Red, Taylor Swift.

image1 (5)It was a happy day on the beach. Sunset and also you beside me. Now I am trying to get back this smile again.

When you love someone

When you love someone

Just be brave to say that you want her to be with you

When you hold your love

Don’t ever let it go

Or you will loose your chance

To make your dreams come true

 

When you love someone, Endah N Rhesa

“Aku baik-baik saja.”

Aku hanya membutuhkan perasaan itu sekarang juga. Sebuah perasaan yang menegaskan bahwa aku benar-benar baik-baik saja. Bukan sekedar wacana baik-baik saja karena sebuah sandiwara, aku ingin yang sesungguhnya.

Tolong?